periskop.id - Di tengah tekanan geopolitik dan geoekonomi global, pemerintah dan pelaku usaha Jepang tetap menunjukkan komitmen kuat untuk berinvestasi di Indonesia. Hal ini disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, usai menghadiri pertemuan dengan Naruhito, Kaisar Jepang, dan Fumihito, Putra Mahkota Jepang, di Tokyo, Senin (31/3).

Rosan menegaskan, kepercayaan Jepang terhadap Indonesia tetap tinggi meski situasi global tengah bergejolak. Ia menyebut total komitmen investasi yang dibahas mencapai sekitar 23,3 miliar dolar AS.

“Ini membuktikan bahwa kepercayaan internasional, dalam hal ini pemerintah dan pengusaha Jepang terhadap Indonesia, tetap besar dan bahkan terus meningkat,” ujar Rosan.

Ia menjelaskan, sebagian besar nilai investasi tersebut akan difokuskan pada proyek-proyek strategis, termasuk sektor energi bersama Pertamina dengan nilai sekitar 20,9 miliar dolar AS. Detail lebih lanjut mengenai proyek-proyek tersebut, kata Rosan, akan disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Selain itu, sejumlah kesepakatan investasi lain juga tercapai, di antaranya kerja sama dengan SMBC Aviation Capital senilai sekitar 800 juta dolar AS, serta pendanaan untuk Pegadaian dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation sebesar Rp5 triliun atau sekitar 300 juta dolar AS.

Di sektor lain, investasi juga mengalir ke industri kecantikan melalui kerja sama perusahaan Jepang dan Indonesia dengan nilai sekitar 500 juta dolar AS. Sementara itu, investasi di sektor plasma darah mencapai sekitar 1 miliar dolar AS, menjadi yang kedua setelah investasi serupa dari Korea Selatan.

Tak hanya itu, kerja sama di bidang energi baru terbarukan juga terus diperkuat, termasuk pengembangan proyek panas bumi (geothermal) antara perusahaan Indonesia dan Jepang seperti Sumitomo Corporation. Jepang sendiri disebut konsisten berada di jajaran lima besar negara investor di Indonesia.

Pernyataan serupa juga disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang menyoroti hasil forum bisnis Indonesia–Jepang.

“Intinya dari business forum itu adalah adanya kerja sama antara Indonesia dan Jepang dan investasi pemerintah Jepang dan swasta dari Jepang ke Indonesia sebesar kurang lebih Rp380 triliun,” ujar Teddy.

Rosan menambahkan, minat Jepang terhadap sektor energi bersih di Indonesia sangat tinggi. Bahkan, sebelumnya telah dilakukan financial closing proyek geothermal di Maluku dengan nilai sekitar 900 juta dolar AS.

“Terlepas dari situasi geopolitik dan geoekonomi global saat ini, kepercayaan internasional terutama dari Jepang tetap besar dan mereka berkomitmen untuk terus menjalankan serta mengembangkan investasi di Indonesia,” kata Rosan.