periskop.id - Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan resmi ke Jepang atas undangan Kaisar Naruhito, dengan agenda utama mempererat dan memperkuat kerja sama strategis kedua negara di berbagai sektor penting.

‎Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik J Rachbini, menilai hubungan Indonesia–Jepang yang telah terjalin lebih dari setengah abad bersifat komplementer atau saling melengkapi. Sehingga memberikan keuntungan bagi kedua negara.

Menurutnya, langkah ini memiliki arti strategis dalam memperkuat hubungan ekonomi dan perdagangan Indonesia dengan salah satu mitra dagang utama tersebut. 

‎"Perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer, saling melengkapi sehingga bersifat win-win, di mana kedua negara mendapat manfaat yang optimal untuk mengembangkan cadangan devisanya masing-masing," ucap Didik dalam keterangannya, Senin (30/3). 

‎Menurut Didik, kondisi ini berbeda dengan hubungan dagang Indonesia dengan China yang cenderung bersifat substitusi atau saling menggantikan. Dalam pola tersebut, kedua negara bersaing pada produk yang serupa, seperti sektor pertanian, pangan, hingga manufaktur seperti tekstil dan elektronik.

‎Akibatnya, Indonesia menghadapi tekanan persaingan harga yang ketat, terutama dari produk impor yang lebih murah. Hal ini dinilai berkontribusi pada fenomena deindustrialisasi dini serta melemahnya sektor manufaktur dalam negeri.

‎"Hubungan dagang yang saling men-substitusi seperti ini bermasalah bagi Indonesia karena produk dan industri domestik kalah bersaing karena  harganya murah. Selain itu, neraca perdagangan sektor manufaktur terus defisit dan juga muncul tekanan pada industri UMKM yang berubah menjadi distributor barang impor Cina," terang Didik. 

‎Di sisi lain, meskipun pertumbuhan ekonomi Jepang relatif lebih rendah, skala ekonominya tetap besar dan berperan penting dalam perekonomian global, sejajar dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Jerman.

‎Oleh karena itu, Didik menekankan pentingnya memaksimalkan kunjungan Presiden ke Jepang, tidak hanya sebagai diplomasi formal, tetapi juga untuk menghasilkan kerja sama konkret yang berdampak langsung pada perekonomian nasional.

‎Ia mendorong agar pemerintah segera merancang strategi lanjutan pasca kunjungan guna memperkuat kerja sama komplementer tersebut. Dalam hubungan ini, Indonesia mengekspor energi seperti batu bara dan LNG, serta produk pertanian dan perikanan ke Jepang. Sebaliknya, Jepang mengekspor mesin, teknologi tinggi, serta investasi industri ke Indonesia.

‎Ia menambahkan bahwa perdagangan komplementer seperti ini lebih menguntungkan dan bermakna ekonomi karena terjadi penguatan value chain keduanya dimana Indonesia masuk ke dalam rantai pasok global.

‎"Dampaknya, ada transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja industri dan penguatan manufaktur, otomotif, elektronik," tutupnya.