periskop.id - Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Brigjen TNI Aulia Dwi Nasrullah merespons beredarnya surat telegram Panglima TNI mengenai status siaga satu institusi militer. Pihaknya menegaskan komitmen penjagaan keamanan negara dan masyarakat dari segala bentuk ancaman asing.

"TNI bertugas secara profesional dan responsif, yang diwujudkan dengan senantiasa memelihara kemampuan dan kekuatan agar selalu siap operasional, serta siap siaga mengantisipasi perkembangan di lingkungan strategis internasional, regional, maupun nasional," kata Aulia saat menjawab konfirmasi, Sabtu (7/3), seperti dilansir Antara.

Tentara Nasional Indonesia memiliki tugas utama memegang teguh kedaulatan negara. Seluruh prajurit memikul tanggung jawab besar menjaga keselamatan masyarakat sipil dari ancaman luar.

Militer Indonesia terus berupaya memperkuat garis pertahanan negara secara maksimal. Salah satu langkah konkretnya berupa penyelenggaraan apel rutin tingkat satuan secara berkala.

Pelaksanaan apel ini bertujuan memeriksa tingkat kesiapan seluruh pasukan bersenjata. Pengecekan rutin menjamin kesiagaan operasional tempur prajurit setiap saat.

Meski telah memberikan penjelasan umum, pihak Mabes TNI enggan memberikan penegasan spesifik terkait status kesiagaan tersebut. Aulia tidak memberikan jawaban pasti saat mendapat pertanyaan ulang mengenai kebenaran penetapan status siaga satu.

Informasi mengenai penetapan status siaga satu prajurit sebelumnya sempat beredar luas di tengah masyarakat. Pesan berantai ini merujuk secara gamblang pada Surat Telegram Panglima TNI bernomor TR/283/2026.

Dokumen internal tersebut berisi instruksi peningkatan kewaspadaan kepada seluruh jajaran prajurit militer. Langkah antisipasi ini bertujuan menghadapi dampak eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Terdapat tujuh poin instruksi utama tertera jelas di dalam surat telegram tersebut. Panglima Komando Utama Operasi (Pangkotamaops) TNI mendapat perintah langsung menyiagakan personelnya.

Pimpinan komando juga wajib mempersiapkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) di masing-masing wilayah tugas. Prajurit harus segera melaksanakan patroli ketat pada berbagai objek vital strategis.

Pengamanan aparat militer ini menyasar langsung berbagai sentra perputaran roda perekonomian masyarakat. Area penjagaan secara spesifik meliputi bandara, pelabuhan, stasiun kereta api, terminal bus, hingga kantor PLN.