Periskop.id - Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengingatkan, kekurangan asupan serat selama berpuasa dapat memicu masalah pencernaan, termasuk di antaranya sembelit.
"Yang paling sering terjadi saat asupan serat kurang itu sembelit. Banyak orang puasa mengalami sembelit dan perut tidak nyaman karena seratnya tidak cukup," kata Rita seperti dikutip dari Antara, Kamis (19/2).
Ia menyampaikan, penurunan konsumsi sayur dan buah-buahan akibat perubahan pola makan selama berpuasa bisa membuat kebutuhan serat harian tidak terpenuhi.
Saat asupan serat rendah, dosen di Universitas Faletehan Serang itu menjelaskan, pergerakan usus jadi melambat sehingga proses buang air besar tidak lancar dan perut tidak nyaman. Kalau berlangsung lama, ia melanjutkan, masalah kekurangan serat bisa menimbulkan masalah serius pada saluran cerna. Menurutnya, sembelit berkepanjangan juga dapat memicu peradangan dan meningkatkan risiko hemoroid.
Rita menyampaikan bahwa kekurangan serat juga berkaitan dengan masalah metabolik. Asupan serat yang rendah dapat menyebabkan kontrol penyerapan zat gizi kurang optimal, sehingga kadar gula dan lemak dalam darah bisa meningkat.
Selain itu, lanjutnya, serat merupakan sumber makanan bagi mikrobiota usus. Kalau asupan serat tidak mencukupi, jumlah dan keragaman bakteri baik di saluran cerna dapat menurun.
"Kesehatan mikrobiota usus juga berkaitan dengan kesehatan mental. Jadi kalau asupan serat kurang, efeknya tidak hanya ke pencernaan, tapi bisa berdampak lebih luas," serunya.
Ia pun menekankan pentingnya menjadikan sumber serat seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian sebagai bagian dari menu sahur dan berbuka puasa. Ini agar kebutuhan serat terpenuhi dan pencernaan tidak terganggu selama berpuasa.
Sumber Nabati
Kebutuhan serat harian selama puasa pada dasarnya dapat dipenuhi dari makanan sehari-hari, selama pola makan tetap seimbang dan mencakup sumber nabati yang cukup.
“Jika pola makan bisa seimbang, sebenarnya kebutuhan serat bisa dipenuhi dari semua jenis sayur, semua jenis buah, protein nabati, serta makanan pokok yang kaya serat seperti umbi-umbian,” tuturnhya.
Ia mengatakan, serat tidak hanya berasal dari sayur dan buah, tetapi juga dapat diperoleh dari protein nabati dan makanan pokok tertentu yang kaya akan serat.
Ia menjelaskan, sumber protein nabati seperti kacang-kacangan dan olahannya turut menyumbang asupan serat harian. Begitu juga bahan pangan pokok berbasis umbi yang mengandung serat lebih tinggi dibanding sebagian sumber karbohidrat olahan.
Menurutnya, kunci utama pemenuhan serat saat puasa terletak pada komposisi menu sahur dan berbuka yang tetap lengkap, tidak hanya didominasi karbohidrat sederhana dan lauk hewani. Menu yang mengandung kombinasi sayur, buah, dan sumber protein nabati membantu menjaga fungsi pencernaan tetap stabil, meski frekuensi makan berkurang selama puasa.
Meski begitu, konsultan gizi di Rumah Sakit (RS) Royal Progress Sunter itu menambahkan, suplemen serat dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu. Terutama jika sudah muncul keluhan gangguan pencernaan seperti sembelit.
“Dalam kondisi tertentu, misalnya sudah terjadi sembelit dan mengganggu pencernaan, suplementasi serat bisa membantu mengatasi keadaan tersebut,” ujarnya.
Namun, ia menekankan suplemen bukan pilihan utama jika kebutuhan serat masih dapat dipenuhi dari makanan utuh. Pengaturan menu yang beragam dan seimbang, tetap menjadi cara utama untuk menjaga kecukupan serat harian selama puasa.
Tinggalkan Komentar
Komentar