periskop.id - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau langsung pembangunan Gedung Tokushukai di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, Rabu (15/4). Proyek ini digadang-gadang menjadi salah satu upaya pemerintah menahan laju pasien Indonesia yang selama ini memilih berobat ke luar negeri, khususnya untuk layanan jantung berteknologi tinggi.
Gedung Tokushukai merupakan hasil kolaborasi antara RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita dengan Tokushukai Medical Corporation, dengan nilai hibah mencapai Rp1 triliun. Pemerintah menilai kerja sama yang telah terjalin sejak 2004 kini memasuki tahap yang lebih konkret, dari sekadar pertukaran tenaga medis menjadi pembangunan infrastruktur berskala besar.
“Ini gedung tertinggi yang dimiliki Kementerian Kesehatan dan merupakan hibah senilai Rp1 triliun dari Tokushukai Group. Kerja sama ini sudah berjalan lama, dari tukar-menukar dokter dan ilmu pengetahuan hingga sekarang berkembang menjadi kolaborasi aset,” ujar Budi.
Dari sisi fasilitas, Direktur Utama RSJPD Harapan Kita Iwan Dakota menyebut kapasitas rumah sakit akan meningkat dua kali lipat, dari 400 menjadi 800 tempat tidur, dengan sebagian difokuskan pada layanan premium atau private wing.
“Fasilitas yang disiapkan sangat high-end dan bisa bersaing dengan negara tetangga, bahkan Jepang,” kata Iwan.
Selain layanan klinis, gedung ini juga diproyeksikan menjadi pusat pendidikan dan riset. Selama ini, kerja sama dengan Tokushukai mencakup program magang dokter dan perawat, yang justru tertarik belajar di Indonesia karena tingginya jumlah kasus (case load). Ke depan, kolaborasi riset dengan Jepang dan negara lain disebut akan ditingkatkan, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.
Gedung Tokushukai sendiri dibangun setinggi 20 lantai, dilengkapi dua basement dan satu helipad. Dengan kapasitas dan fasilitas yang lebih besar, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya menjadi pasar layanan kesehatan global, tetapi juga pemain.
Meski demikian, efektivitas proyek ini dalam benar-benar menahan pasien ke luar negeri akan sangat bergantung pada kualitas layanan, biaya yang kompetitif, serta kepercayaan publik terhadap sistem kesehatan dalam negeri.
Tinggalkan Komentar
Komentar