periskop.id - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengkritik sikap sebagian orang tua menolak imunisasi campak anak akibat isu kehalalan bahan vaksin. Polemik ini sangat menghambat pemerintah menekan angka penyebaran penyakit menular tersebut.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI di Jakarta, (20/4), Budi mengungkap kesamaan komposisi dasar kedua penangkal penyakit tersebut. "Padahal saya juga bisa bilang, barang yang dipakai yang haram di campak, itu sama dengan bahan yang dipakai di meningitis," katanya.

Vaksin meningitis justru selalu menjadi buruan umat Islam setiap tahun. Penyuntikan vaksin ini merupakan syarat wajib bagi setiap calon jemaah umrah dan haji.

Fakta medis ini menjadi sebuah ironi di tengah kelompok masyarakat penolak vaksin. Mereka bersikeras melarang anak menerima imunisasi campak murni karena kecurigaan komponen obat.

Kondisi kontradiktif ini sering ia temukan langsung di masyarakat. "Ada bapak yang bilang, ini anak saya nggak boleh. Ya bapaknya juga kalau mau umroh, jangan disuntik juga. Pasti dia nggak bisa pergi umroh," ujarnya.

Penolakan orang tua menjadi hambatan utama pemberantasan campak di Indonesia. Cakupan imunisasi dasar anak sempat merosot tajam menyusul pergeseran fokus penanganan pandemi.

Campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan paling tinggi di dunia. Satu pasien positif mampu menyebarkan virus mematikan ini kepada 15 hingga 18 orang di sekitarnya.

Dunia medis sejatinya telah memiliki pengobatan efektif bagi pasien campak. Penderita sangat jarang meninggal dunia secara langsung akibat infeksi virus utamanya.

Risiko kematian justru muncul melalui dampak ikutan penyakit tersebut. Komplikasi infeksi paru dan peradangan otak sering menjadi penyebab utama hilangnya nyawa pasien anak.

Kementerian Kesehatan merespons keengganan warga dengan mengubah strategi komunikasi publik. Pemerintah kini gencar mengampanyekan pentingnya kesehatan melalui berbagai platform media sosial.

Penyampaian informasi medis kini melibatkan komunikator publik demi menghindari penjelasan bahasa yang terlalu kaku. "Kadang-kadang dokter anak terlalu saintifik menjelaskannya. Jadi memang kita harus pakai juga beberapa orang yang bisa membicarakannya dengan bahasa yang gampang dimengerti oleh ibu dan bapak," ucapnya.