periskop.id - Pasca periode Lebaran 2026, tren kasus campak di Indonesia menunjukkan penurunan signifikan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat hingga pekan ke-11 tahun 2026, jumlah kasus turun sekitar 95% dibandingkan lonjakan yang terjadi pada awal Januari.
Data Kemenkes menunjukkan, pada pekan pertama 2026 terdapat 2.740 suspek campak dengan 2.268 kasus terkonfirmasi. Angka tersebut kemudian menyusut tajam menjadi 177 suspek dan 121 kasus pada pekan ke-11.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan tren penurunan mulai terlihat sejak akhir Januari dan terus berlanjut hingga Maret 2026.
“Setelah minggu ke-3, tren mingguan menurun bertahap hingga minggu ke-11, di mana jumlah suspek menurun menjadi 177 suspek dan kasus campak menjadi 121 kasus, menandakan penurunan sekitar 94–95% dari puncak minggu ke-1,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis (26/3).
Kemenkes mengklaim penurunan ini tidak terlepas dari langkah pemerintah yang menggencarkan imunisasi menjelang Lebaran. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya menargetkan cakupan imunisasi campak dapat mencapai 95% dalam satu hingga dua pekan sebelum hari raya.
“Nah, hari ini sudah berjalan satu minggu. Saya melihat hasilnya penetrasinya bagus. Angka pastinya saya belum dapat, tapi memang kita kejar ini kalau bisa sebelum Lebaran,” kata Budi.
Sebelumnya, hingga pekan ke-9 atau awal Maret 2026, kasus campak masih tercatat cukup tinggi, yakni 8.716 kasus dengan 10.826 suspek. Bahkan sempat terjadi penambahan sekitar 500 kasus dalam satu pekan.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menilai tren penurunan yang terjadi menjelang dan pasca Lebaran merupakan dampak dari intervensi yang dilakukan secara masif.
“Turunnya penambahan suspek dan kasus tersebut karena imunisasi dan edukasi yang masif tentang pola hidup bersih dan sehat,” katanya.
Di sisi lain, Kemenkes mencatat hingga pertengahan Maret 2026 terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi. Meski sebagian besar wilayah menunjukkan tren penurunan, beberapa daerah seperti Kabupaten dan Kota Bima di Nusa Tenggara Barat masih mencatat angka kasus yang relatif tinggi.
Sejumlah wilayah seperti Tangerang Selatan, Kabupaten Bima, Kota Tangerang, Depok, Jakarta Pusat, Palembang, dan Padang sebelumnya menjadi daerah dengan kontribusi kasus tertinggi.
Untuk menekan penyebaran, pemerintah menggencarkan Outbreak Response Immunization (ORI) serta imunisasi kejar bagi anak usia 9–59 bulan. Upaya ini juga didukung oleh 51 unit pelaksana teknis bidang kekarantinaan kesehatan yang berkoordinasi dengan dinas kesehatan daerah.
Dengan tren yang terus melandai hingga akhir Maret 2026, pemerintah optimistis penyebaran campak dapat dikendalikan. Namun, Kemenkes menekankan bahwa keberhasilan ini tetap bergantung pada konsistensi imunisasi dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan.
Tinggalkan Komentar
Komentar