periskop.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia membawa kabar baik terkait pengendalian penyakit menular di Tanah Air. Sepanjang awal tahun 2026, kasus penularan campak di berbagai daerah dilaporkan mengalami tren penurunan yang sangat signifikan.

Pelaksana Tugas Direktorat Jenderal (Plt. Dirjen) Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni memaparkan bahwa lonjakan kasus campak berhasil ditekan hingga angka 91% hanya dalam kurun waktu 13 minggu berturut-turut. 

Pada minggu pertama tahun ini, angka penularan sempat menyentuh 2.220 kasus, namun merosot tajam menjadi 195 kasus pada minggu ke-13.

“Dari minggu pertama sampai minggu ke-13, kita bisa lihat penurunan yang cukup signifikan dari minggu ke minggu,” ujar Andi Saguni dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Jumat (10/4).

Tren pelandaian kasus ini terpantau merata di sejumlah provinsi yang sempat menduduki peringkat teratas penularan sepanjang tahun 2025 lalu. Wilayah seperti Aceh dan Sumatera Utara yang sebelumnya menjadi zona rawan, kini melaporkan penurunan kasus campak secara drastis hingga minggu ke-13.

Perbaikan kondisi kesehatan masyarakat juga terlihat nyata di kawasan Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Kedua provinsi yang sempat mengalami lonjakan pasien di akhir 2025 dan awal 2026 ini mulai menunjukkan grafik penurunan yang konsisten.

Situasi serupa turut dirasakan di wilayah Pulau Jawa, meliputi kawasan padat penduduk seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Kendati kurva penularan kian melandai, pihak pemerintah terus mewanti-wanti masyarakat agar tidak cepat berpuas diri dan mengabaikan protokol kesehatan.

“Kasus memang sudah turun, tetapi masih ada, sehingga kita tetap harus waspada,” tegasnya mengingatkan.

Selain kawasan Sumatera dan Jawa, tingkat infeksi yang menyusut juga dicatatkan oleh Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, serta Nusa Tenggara Barat (NTB). Secara khusus di wilayah NTB, pemerintah pusat masih menaruh perhatian lebih pada Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu meskipun tren penurunan wabah telah mulai terlihat jelas.

Kemenkes menilai penyusutan angka pasien ini sebagai buah manis dari serangkaian upaya pengendalian wabah yang telah dijalankan secara masif. Meski demikian, pengawasan ketat dan langkah antisipasi dini di level fasilitas kesehatan tetap diwajibkan demi mencegah munculnya kembali klaster lonjakan kasus campak di Nusantara.