periskop.id - Pemerintah Kota Jakarta Timur terus mengintensifkan langkah percepatan penurunan angka stunting dengan melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai orang tua asuh.
Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, menegaskan bahwa setiap ASN diimbau untuk mendampingi anak-anak yang terindikasi maupun sudah mengalami stunting.
“Program orang tua asuh ini menjadi salah satu inovasi. Satu ASN bisa mendampingi satu hingga dua anak untuk memastikan kebutuhan gizi dan perhatian mereka terpenuhi,” ujar Munjirin dikutip dari Antara, Selasa (7/4).
Ia menambahkan, pola pendampingan ini tidak hanya sebatas pemberian makanan tambahan, tetapi juga menyentuh aspek pengetahuan orang tua, kondisi ekonomi keluarga, hingga lingkungan sosial.
“Permasalahan stunting bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan ekonomi, edukasi orang tua tentang pola makan, hingga kondisi lingkungan. Karena itu, dibutuhkan kerja sama semua pihak,” jelasnya.
Langkah kolaboratif ini diwujudkan melalui penandatanganan komitmen bersama dalam Pra Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tematik stunting. Menurut Munjirin, keterlibatan langsung ASN, camat, lurah, dan stakeholder wilayah akan mempercepat penanganan secara terarah.
Data Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur mencatat pada awal 2025 terdapat 812 kasus stunting. Dari jumlah tersebut, 268 anak masuk kategori sangat pendek, sementara 544 anak berstatus pendek.
Kecamatan Cakung menjadi wilayah dengan kasus terbanyak (147 anak), disusul Kramat Jati (102 anak) dan Matraman (100 anak).
Sebelumnya, Pemkot Jakarta Timur juga fokus menangani 83 anak terindikasi stunting di Kecamatan Cipayung. Dari jumlah itu, 10 anak mengalami gizi buruk, sementara 73 lainnya bermasalah dengan gizi.
Pengawasan ketat dilakukan melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) selama tiga bulan.
Upaya ini sejalan dengan target nasional. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023, prevalensi stunting di Indonesia masih berada di angka 21,5%. Pemerintah pusat menargetkan penurunan hingga 14% pada 2024. Jakarta Timur berusaha mendukung pencapaian tersebut dengan strategi lintas sektor, termasuk edukasi gizi, pemberdayaan ekonomi keluarga, dan kampanye pola makan sehat.
Munjirin optimistis, melalui kolaborasi berkelanjutan, angka stunting di wilayahnya dapat ditekan.
Tinggalkan Komentar
Komentar