periskop.id - Persoalan stunting di Papua belum menunjukkan perbaikan merata. Di tengah berbagai intervensi pemerintah, prevalensi gizi buruk kronis di wilayah ini masih bertahan di atas rata-rata nasional.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan, angka stunting nasional saat ini berada di level 19,8%. Namun, seluruh provinsi di Papua masih mencatat angka yang lebih tinggi dari capaian tersebut.
“Stunting masih di atas nasional semuanya. Nasional mencapai 19,8%,” kata Tito dalam rapat bersama Komisi II DPR RI di Kompleks Parlemen, Senin (13/4).
Gambaran di lapangan menunjukkan situasi yang tidak seragam. Papua Tengah mulai memperlihatkan tren penurunan. Sebaliknya, Papua Selatan justru mengalami kenaikan, meski tipis. Sementara di wilayah lain, angka stunting masih bertahan di kisaran 30% hingga 34%.
“Kita melihat ada perbedaan, untuk di Papua Tengah cenderung menurun, kemudian Papua Selatan sedikit naik,” ujarnya.
Data ini menegaskan bahwa penanganan stunting di Papua belum sepenuhnya efektif. Perbaikan yang terjadi masih bersifat parsial, belum mampu menekan angka secara menyeluruh.
“Artinya stunting perlu menjadi perhatian yang sangat serius,” tegas Tito.
Menurut Tito, pemerintah saat ini sedang mendorong penguatan sektor kesehatan melalui kerangka Catur Papua Sehat. Skema ini menempatkan penurunan stunting dan peningkatan usia harapan hidup sebagai indikator utama.
Namun di sisi lain, indikator kesehatan dasar lain juga masih tertinggal. Angka harapan hidup di Papua berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 74,42 tahun. Papua Selatan tercatat sekitar 68,61 tahun, sementara Papua Pegunungan menjadi yang terendah dengan 67,55 tahun.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan di Papua tidak berdiri sendiri. Stunting menjadi bagian dari problem yang lebih luas, mulai dari akses layanan kesehatan hingga kualitas intervensi di tingkat daerah yang hingga kini belum sepenuhnya terurai.
Tinggalkan Komentar
Komentar