Periskop.id - Angka harapan hidup penduduk Indonesia tercatat naik dari 72 tahun menjadi 74 tahun. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap kenaikan itu berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas (Kesprimkom) Kemenkes Maria Endang Sumiwi menyampaikan kenaikan tersebut sebagai capaian yang perlu terus dipantau. Menurutnya, angka ini jadi indikator penting kondisi kesehatan masyarakat secara umum.

"Kita usia harapan hidupnya naik. Kalau menurut BPS, dari 72 menjadi 74 tahun," kata Maria dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (4/8).

Meski naik, Maria menilai angka harapan hidup Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan negara tetangga. Jepang, misalnya, mencatatkan angka harapan hidup hingga 84 tahun.

Kenaikan usia harapan hidup itu, menurutnya, justru diiringi fenomena yang mengkhawatirkan. Pola kematian di Indonesia mulai bergeser ke usia produktif, yakni 35 sampai 60 tahun, dengan penyakit kardiovaskular sebagai penyebab dominan.

Kemenkes merespons tren tersebut lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Maria mencatat partisipasi masyarakat dalam program itu melonjak sepanjang semester I 2026.

Hingga 31 Juli 2026, jumlah warga yang telah mengakses pemeriksaan CKG mencapai 73 juta orang. Lonjakan ini disebut Maria sebagai sinyal positif meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini penyakit.

Kenaikan angka harapan hidup, menurut catatan Kemenkes, belum bisa langsung diklaim sebagai prestasi. Masih banyak faktor lain di luar angka tersebut yang perlu diperbaiki, termasuk pola hidup dan deteksi dini penyakit tidak menular.

"Sekarang kita makin sering mendengar teman kita kena serangan jantung setelah lari atau setelah main badminton," ujar Maria.