Periskop.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan fasilitas pengolahan sampah berbasis Refuse Derived Fuel atau RDF Plant di Rorotan, Jakarta Utara, mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari.
"Yang di Rorotan kami sedang melakukan commissioning. Mudah-mudahan segera selesai, sehingga Rorotan bisa beroperasi normal," kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota Jakarta, Senin (9/3).
Llangkah ini diharapkan dapat mengurangi beban sampah yang selama ini dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Pramono mengakui kapasitas pengolahan sampah di Rorotan belum bisa langsung mencapai target awal yang dirancang sebelumnya.
Meski demikian, jika mampu mengolah sekitar 1.000 ton per hari, hal itu dinilai sudah sangat membantu mengurangi beban sampah Jakarta. Menurutnya, dengan kapasitas tersebut fasilitas Rorotan bisa mengurangi pengiriman sampah ke Bantargebang hingga sekitar 1.000 hingga 1.500 ton per hari.
Diketahui saat ini, volume sampah dari Jakarta yang dikirim ke Bantargebang mencapai sekitar 7.400 hingga 8.000 ton per hari. Kondisi ini membuat kapasitas tempat pembuangan akhir tersebut semakin terbatas.
Karena itu, Pemprov DKI terus mencari cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap Bantargebang. Salah satunya melalui pembangunan fasilitas pengolahan sampah di dalam kota serta memperketat pemilahan sampah sejak dari sumber.
"Jadi 1.000 ton per hari itu sudah sangat baik untuk operasional di Rorotan pada saat ini dan itu akan mengurangi sampah secara signifikan, mungkin sekitar 1.000-1.500 lah," jelas Pramono.
Pemilihan Sampah
Selain memaksimalkan RDF Rorotan, Pemerintah DKI Jakarta juga menyatakan akan memperketat sistem pemilahan sampah, agar tidak seluruh sampah dari Jakarta dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.
"Jumlah sampah kita antara 7.400 sampai dengan 8.000 ton per hari. Hampir sebagian besar tidak dilakukan pemisahan, kemudian dikirim ke Bantargebang," kata Pramono.
Menurut dia, kebijakan pemilahan sampah ini juga sejalan dengan arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup. Dengan pemilahan yang lebih baik, tidak semua sampah perlu berakhir di tempat pembuangan akhir.
"Dan untuk itu kami akan melakukan proses pemilahan di ujung. Dan sekaligus untuk mengatur agar semuanya itu tidak dikirimkan ke Bantargebang. Karena Bantargebang memang harus mulai ada pembatasan, karena daya tampungnya sudah sangat terbatas," jelas Pramono.
Saat ini, Pemerintah Jakarta menutup sementara zona 4A di TPST Bantargebang setelah terjadi longsor gunung sampah yang menewaskan empat orang. "Yang ditutup hanya di zona 4A. Tetapi di zona 3 tetap digunakan untuk menampung,” kata Pramono.
Pramono mengatakan penutupan dilakukan agar proses penanganan dan pemulihan di area longsor dapat berjalan aman. Sementara itu, operasional pengiriman sampah dari Jakarta tetap berjalan dengan pengalihan ke zona lain.
Pramono juga menyebut Pemerintah Jakarta menyiapkan dua lokasi pembuangan sementara untuk menampung sampah dari Jakarta. Adapun dua zona tambahan tersebut disiapkan bersifat sementara sambil menunggu penataan kembali area longsor di zona 4A. Pemerintah berharap pemulihan bisa segera dilakukan agar operasional di zona tersebut dapat kembali normal.
Tinggalkan Komentar
Komentar