Periskop.id - Omzet pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur (Jaktim) turun hingga 30%. Hal ini merupakan imbas dari sampah yang menggunung setinggi sekitar enam meter di Tempat Penampungan Sementara (TPS) di pasar tersebut.

"Akibat tumpukan sampah, jadi ada penurunan omzet hingga 30%. Karena yang belanja itu enggan ke belakang, khususnya untuk bagian lapak saya. Mereka juga enggan parkir. Padahal kalau parkir, biasanya sekalian belanja," kata salah satu pedagang Syaeful di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (1/4). 

Menurut dia, penurunan ini cukup signifikan, terutama pada jam-jam sibuk yang biasanya menjadi waktu utama transaksi. Kondisi lingkungan yang kotor, bau menyengat, serta akses yang terganggu membuat pembeli enggan datang, sehingga omzet pedagang pun menurun.

"Pembeli saya lihat cenderung enggan masuk ke area dalam pasar. Terutama di sekitar lokasi TPS yang dipenuhi sampah, kita jadi kurang pembeli," ujar Syaeful.

Dia mengatakan, pengangkutan sampah di TPS sebenarnya dilakukan setiap hari, namun volume sampah yang diangkut dinilai tidak sebanding dengan jumlah sampah yang terus bertambah.

"Terkait sampah yang menumpuk ini, dampaknya banyak, baik secara ekonomi maupun dari sisi kesehatan. Secara ekonomi juga, untuk bongkar muat kita pedagang khususnya untuk jam sibuk merasa terganggu," jelas Syaeful.

Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lainnya, Narto. Dia menilai kondisi sampah yang menumpuk sudah berlangsung cukup lama tanpa ada solusi yang jelas. Selain bau yang menyengat, jalanan di sekitar lapak juga menjadi becek dan sulit dilalui.

"Yang jelas ini sampah sangat mengganggu kami dan seperti tidak ada solusi, berlarut-larut. Kami bukannya tidak bersuara, sudah bersuara ke PD Pasar Jaya. Cuma sampai saat ini belum ada penyelesaian," kata Narto.

Dia berharap, pihak pengelola pasar dapat segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut. Apalagi, para pedagang telah menjalankan kewajiban membayar retribusi, sehingga berhak mendapatkan lingkungan yang bersih dan nyaman.

"Harapan kami sebagai pedagang, PD Pasar Jaya memenuhi kewajibannya. Kita bayar retribusi, ya tolong ditunaikan juga kewajibannya membersihkan sampah. Kami tidak muluk-muluk, yang penting lingkungan bersih dan nyaman," tuturnya. 

Pengangkutan sampah, kata Narto, diharapkan dapat dilakukan secara maksimal dan konsisten agar aktivitas perdagangan kembali normal. Jika kondisi ini terus berlarut, mereka khawatir dampaknya tidak hanya pada penurunan pendapatan, tetapi juga kesehatan pedagang dan pengunjung pasar.

Empat Hari
Upaya pengangkutan tumpukan sampah setinggi enam meter tersebuyt, sejatinya sudah berlangsung selama empat hari di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Namun belum menunjukkan hasil signifikan.

"Kalau pengangkutan pertama, sekitar dua puluh truk, lalu berikutnya tiga belas. Sekarang, dari pagi baru beberapa, jadi belum kelihatan banyak berkurang," kata salah satu petugas kebersihan, Sugiat (55) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa.

Terlihat gunungan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) masih terlihat tinggi dan belum banyak berkurang. Aktivitas pengangkutan juga masih terus dilakukan. Sejumlah truk sampah tampak keluar-masuk area TPS untuk mengangkut limbah yang menumpuk.

Namun, jumlah armada yang beroperasi dinilai belum mampu mengimbangi volume sampah yang ada. Menurut Sugiat, kondisi saat ini berbeda dengan penanganan pada Januari lalu yang dinilai jauh lebih cepat. Saat itu, puluhan truk dikerahkan setiap hari sehingga tumpukan sampah dapat segera terurai.

"Dulu, sehari bisa sampai 50 truk, dari pagi sampai sore, makanya cepat habis. Sekarang lebih sedikit, jadi lama untuk mengurangi volume sampah," jelas Sugiat.

Selain keterbatasan armada, penggunaan alat berat yang minim juga menjadi kendala. Saat ini, hanya satu alat berat jenis shovel yang digunakan untuk memindahkan sampah ke dalam truk.

Padahal sebelumnya, dua alat berat, yakni shovel dan ekskavator dikerahkan secara bersamaan. Di sisi lain, kondisi lingkungan sekitar TPS masih memprihatinkan.

Jalanan di sekitar lokasi tersebut tampak becek akibat campuran sampah dan air yang menggenang hingga ke badan jalan. Bau menyengat juga masih tercium kuat, hingga mengganggu aktivitas di kawasan pasar.

Truk Sampah
Sementara itu, Perumda Pasar Jaya mengaku telah mengerahkan sebanyak 33 truk pengangkut untuk menangani gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

"Kami telah mengangkut sampah menggunakan 33 truk, terdiri dari 20 armada pada hari kemarin (Selasa, 31 Maret) dan 13 armada pada hari ini," kata Kepala Divisi Humas Perumda Pasar Jaya Imam Kurniawan saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Dia menegaskan Perumda Pasar Jaya berkomitmen melakukan percepatan penanganan sampah agar aktivitas warga tidak terganggu. Selain itu, komitmen tersebut juga bertujuan menjaga kelancaran operasional pasar dan kenyamanan seluruh pengunjung maupun pedagang di Pasar Induk Kramat Jati.

Terlebih, estimasi volume sampah saat ini mencapai kurang lebih 6.970 ton atau setara dengan 410 truk. "Sebagai langkah percepatan, sejak Jumat (27/3) hingga hari ini, Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI dan Perumda Pasar Jaya berkoordinasi dan saling bahu membahu menyelesaikan penanganan sampah di Pasar Induk Kramat Jati," ujar Imam.

Selain itu, dia menyebutkan proses pembersihan sampah akan terus berlanjut hingga kondisi area tersebut kembali normal.

"Kami telah melakukan langkah-langkah penertiban serta pemeriksaan di lapangan guna memastikan alur pembuangan sampah tetap terkendali," ucap Imam.

Sementara itu, Manager Humas Perumda Pasar Jaya Topik mengatakan pihaknya sejak beberapa hari terakhir telah mengerahkan truk untuk memaksimalkan pengangkutan sampah. "Secepatnya kami selesaikan masalah sampah di Pasar Induk Kramat Jati," tegas Topik.

Tak sampai situ, sebanyak 20 unit truk dari pihak swasta disiapkan untuk mempercepat proses pengangkutan sampah yang selama ini menggunung di TPS Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

"Sebanyak 20 truk dari pihak swasta disiapkan untuk mempercepat proses pengangkutan sampah yang selama ini menggunung di kawasan tersebut," kata Kepala Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup Kecamatan Kramat Jati, Dwi Firmansyah saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Dia menyebut, keterlibatan pihak swasta merupakan bagian dari upaya optimalisasi pengelolaan sampah sesuai regulasi yang berlaku. "Ke depan pengangkutan di Pasar Induk Kramat Jati akan dilakukan melalui swastanisasi, bekerja sama dengan pihak ketiga yang berizin," ujar Dwi.

Menurutnya, sebanyak 20 unit truk dari pihak swasta akan dikerahkan secara bertahap untuk menangani volume sampah yang tinggi di pasar tersebut "Penambahan armada ini diharapkan mampu mempercepat proses pembersihan dan mencegah kembali terjadinya penumpukan," ucapnya.