periskop.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan melakukan pembersihan sungai dan saluran air serta memburu ikan sapu-sapu di ibu kota, Jumat (17/4).

“Kenapa ikan ini harus dibersihkan? Karena memang sudah merusak. Dan dari hasil lab, hampir semua ikan yang dites di laboratorium kadar batasnya itu kan 0,3 miligram. Dia lebih dari itu, sehingga akan sangat berbahaya kalau dikonsumsi,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota Jakarta, Rabu (15/4). 

Advertisement

Selain itu, kata Pramono, ikan tersebut juga dapat menghancurkan tanggul-tanggul yang ada sebagai tempat persembunyian. Ikan-ikan lokal juga dimakan hingga telur-telurnya. Sehingga ikan tersebut perlu dibersihkan dari sungai-sungai Jakarta.

“Memang ikan ini bisa hidup dalam segala cuaca termasuk dalam kondisi air yang sangat-sangat tidak sehat. Dan memang ikan yang sumbernya itu di Amerika Selatan, di sana pun ini sudah menjadi persoalan dan dimusnahkan,” ujarnya.

Kegiatan bersih-bersih itu sekaligus untuk memperbaiki saluran air, pengerukan lumpur dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan sebagai persiapan menghadapi musim hujan yang diprakirakan akan berlangsung pada September mendatang.

Sebelumnya, Pramono Anung mengadakan rapat khusus bersama jajarannya, terkait penanganan ikan sapu-sapu di ibu kota yang dinilai mengganggu ekosistem lingkungan.

“Dalam waktu dekat ini Pemerintah DKI Jakarta akan mengadakan rapat khusus mengenai ikan sapu-sapu, karena saya akan minta seluruh wali kota, kalau di Pulau Seribu enggak lah, untuk menangani ini,” kata Pramono.

Efek Sapu-Sapu
Menurut Pram, sapaan akrabnya, penanganan ikan sapu-sapu di kawasan Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, merupakan contoh keseriusan Pemprov DKI untuk mengatasi persoalan tersebut. Pramono menilai efek dari banyaknya populasi ikan sapu-sapu itu mulai terasa, mengingat ikan tersebut menjadi predator bagi ikan lokal lainnya.

“Apalagi ini kan ikan yang berasal dari Amerika Selatan, mereka sangat kuat dan menjadi predator bagi ikan-ikan lokal, wader dan sebagainya. Makanannya diambil semua dan mereka merusak tanggul-tanggul yang ada karena rumahnya itu di sana,” jelas Pramono.

Oleh karenanya, ia ingin seluruh jajaran Pemprov DKI menangani persoalan ikan sapu-sapu ini secara serius. Ia berharap Jakarta bisa menjadi contoh atau role model bagi daerah lain dalam penanganan ikan sapu-sapu.

Kepala Dinas KPKP Pemprov DKI Jakarta Hasudungan A. Sidabalok mengatakan permasalahan ikan sapu-sapu ini bukan hal yang baru setelah persoalan itu diselesaikan di kali Ciliwung.

Dia mengatakan, setelah pembersihan dan penangkapan, ikan sapu-sapu tersebut dibawa ke Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP) Ciganjur.

"Bangkai ikan sapu-sapu yang telah mati akan dikubur karena daya tahan ikan sapu-sapu ini memang jika tidak dipastikan mati maka bisa hidup tanpa berada di air," kata Hasudungan.