periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan kebanggaan lembaga keuangan global atas strategi fiskal pemerintah. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai berhasil menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Purbaya membeberkan pencapaian ini usai merampungkan serangkaian agenda strategis di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (14/4). "Bank Dunia dan lembaga rating menyampaikan kepuasan atas strategi yang kami paparkan," tegasnya.
Rangkaian lawatan internasional ini melibatkan pertemuan tingkat tinggi bersama Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva. Delegasi Indonesia turut berdiskusi intensif dengan pejabat teras Bank Dunia dan perwakilan S&P Global Ratings.
Pemerintah berupaya meyakinkan para pemangku kepentingan mengenai kemampuan Indonesia meredam ketidakpastian global. Kekhawatiran dunia terhadap komitmen disiplin anggaran nasional sukses ditepis secara komprehensif.
"Keraguan terhadap kemampuan Indonesia menjaga disiplin fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kini semakin berkurang," paparnya.
Langkah diplomasi ekonomi ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya di New York. Tim ekonomi kabinet sempat menjalin komunikasi strategis bersama sederet investor kakap termasuk BlackRock.
Purbaya menjelaskan antusiasme tinggi dari 18 investor besar seperti Goldman Sachs Asset Management (GSAM), Fidelity, Eaton Vance, dan MFS. "Mereka ingin memahami arah kebijakan pertumbuhan dan pengelolaan anggaran Indonesia," ujarnya.
Para raksasa finansial ini menggali lebih dalam detail fundamental ekonomi domestik. Mereka secara kritis mencari kepastian terkait kredibilitas dan keberlanjutan strategi pembangunan nasional.
Investor asing khususnya asal Amerika Serikat menunjukkan ketertarikan menanamkan modal pada instrumen sektor keuangan. Minat utama mereka tertuju pada instrumen pendapatan tetap (fixed income) dan ekuitas (equity).
Kucuran dana tersebut sebagian besar akan masuk dalam wujud investasi portofolio alih-alih penanaman modal asing langsung. "Namun, kami optimistis dalam waktu dekat aliran dana tersebut akan masuk dan turut mendorong penguatan pasar modal Indonesia," jelasnya.
Pertemuan bersama IMF secara khusus menyoroti ancaman ketegangan geopolitik dan dinamika harga energi. Krisis ini diproyeksikan masih akan memicu ketidakpastian perekonomian dunia dalam beberapa waktu ke depan.
Merespons peringatan tersebut, Purbaya menegaskan kesiapan ekonomi domestik menghadapi guncangan eksternal. Indonesia mengandalkan kondisi fiskal solid dengan ketersediaan bantalan anggaran mencapai Rp420 triliun.
Kekuatan struktur anggaran ini membuat Indonesia tidak membutuhkan perlakuan khusus atau bantuan perlindungan dari IMF. "Kami mampu menyerap shock yang terjadi," ungkapnya.
Kepercayaan dunia internasional ini membuka peluang perluasan kerja sama strategis ke depan. Bank Dunia menyatakan minat mendalam untuk mendukung agenda pembangunan jangka panjang dan pengentasan kemiskinan di Nusantara.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar