periskop.id - Dominasi ikan sapu-sapu di sungai dan saluran air Jakarta kini menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Gubernur Pramono Anung Wibowo menegaskan bahwa penanganan ikan invasif ini tidak bisa dilakukan secara seremonial, melainkan harus berkelanjutan dengan melibatkan personel khusus di lapangan.

“Kami akan konsentrasi, dan untuk itu, nanti akan ada penugasan secara khusus PJLP yang menangani ikan sapu-sapu ini,” ujar Pramono saat meninjau penangkapan ikan di Jakarta Utara dilansir dari Antara, Jumat (17/4).

Ikan sapu-sapu, atau Hypostomus plecostomus, dikenal sebagai spesies invasif yang mampu bertahan hidup di perairan tercemar. Keberadaannya di Jakarta semakin masif dan dinilai merusak ekosistem. Selain memangsa telur ikan lain, ikan ini juga kerap membuat lubang di tanggul sungai sebagai sarang, sehingga mempercepat kerusakan turap.

Pramono menambahkan, laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan kadar residu berbahaya dalam tubuh ikan sapu-sapu rata-rata di atas 0,3. 

“Kalau dikonsumsi, tentu berbahaya. Selain itu, ikan ini juga merusak lingkungan karena membuat sarang dengan cara menggerogoti dinding sungai,” tegasnya.

Gerakan penangkapan ikan sapu-sapu sebelumnya telah digelar serentak di lima wilayah administrasi Jakarta. Pasukan biru Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan pasukan oranye PPSU ikut turun tangan, dengan target ratusan kilogram ikan ditangkap dalam sehari.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Jakarta. Studi di Sungai Ciliwung dan beberapa daerah lain menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu mampu mendominasi hingga 70% biomassa ikan di perairan tercemar. Di Brasil dan Filipina, spesies ini juga menimbulkan masalah serupa, mengganggu keanekaragaman ikan lokal dan menurunkan kualitas ekosistem sungai.