Periskop.id - Perumda PAM Jaya mendorong masyarakat mulai menggunakan toren atau tangki air sebagai cadangan untuk mengantisipasi gangguan tekanan air. Khususnya saat jam penggunaan tinggi atau peak time.

Langkah ini dinilai sebagai solusi praktis di tengah meningkatnya kebutuhan air bersih warga Jakarta yang tidak lagi memiliki sistem penampungan mandiri seperti sebelumnya. "Kadang-kadang memang PAM pada waktu-waktu puncak (peak) daerah terjauh suka kekurangan atau tekanannya hilang. Jadi kita memberikan toren supaya mereka punya cadangan air," kata Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin.

Menurut Arief, pola konsumsi air masyarakat saat ini mengalami perubahan signifikan. Jika dulu rumah tangga umumnya memiliki bak penampungan, kini banyak yang sepenuhnya bergantung pada aliran langsung dari pipa.

Lonjakan penggunaan air biasanya terjadi pada pagi hari saat warga bersiap beraktivitas dan kembali meningkat pada sore hingga malam hari. "Biasanya waktu subuh dan sore hari itu penggunaan air tinggi sekali. Dengan toren, warga tidak terlalu bergantung pada jam-jam air mengalir," ujar Arief.

5.000 Toren Gratis
Sebagai bagian dari program penguatan layanan air bersih, PAM Jaya menargetkan distribusi hingga 5.000 toren gratis kepada warga sepanjang 2026.

Hingga saat ini, sekitar 1.000 toren telah disalurkan di lima wilayah Jakarta, termasuk di kawasan Pulogebang, Jakarta Timur. Khusus wilayah tersebut, disiapkan 357 unit toren yang akan dibagikan secara bertahap.

"Kalau sampai akhir tahun distribusi terus berjalan dan bergeraknya cepat seperti ini, kemungkinan besar totalnya bisa 5.000 toren gratis ke warga Jakarta," kata Arief.

Program ini juga melibatkan Tim Penggerak PKK DKI Jakarta sebagai mitra dalam distribusi bantuan ke masyarakat. Selain untuk menghadapi lonjakan konsumsi air, penggunaan toren juga menjadi solusi sementara di tengah pembangunan jaringan perpipaan yang masih berlangsung di berbagai wilayah.

PAM Jaya mengakui proyek pipanisasi kerap menimbulkan gangguan distribusi air dan aktivitas warga. "Kami terus mencoba bekerja lebih baik lagi untuk merapikan galian-galian karena memang mau tidak mau kita harus membangun pipanisasi di Jakarta," ucapnya.

Data Kementerian PUPR menunjukkan, cakupan layanan air perpipaan di Indonesia masih berada di kisaran 20–25% secara nasional, sementara sisanya masih bergantung pada air tanah atau sumber alternatif Di Jakarta sendiri, pemerintah menargetkan cakupan layanan air bersih perpipaan mencapai 100% dalam beberapa tahun ke depan sebagai bagian dari transformasi kota berkelanjutan.

PAM Jaya optimistis program bantuan toren ini dapat membantu masyarakat mengelola air secara lebih efisien sekaligus meningkatkan kualitas hidup. "Titah Pak Gubernur kepada kami adalah mempercepat proses pembangunan ini supaya masyarakat nanti bisa menikmati air bersih pada waktunya," tuturnya.

"Mudah-mudahan ini bisa membuat banyak perubahan peradaban untuk kehidupan masyarakat Jakarta kelak," pungkasnya.