Periskop.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan memperpanjang proyek LRT Jakarta dari rute semula Velodrome–Manggarai menjadi Velodrome–Dukuh Atas. Keputusan ini diambil untuk memperkuat konektivitas transportasi massal di pusat ibu kota, sekaligus menuntaskan integrasi antarmoda di kawasan strategis Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, jalur LRT tersebut nantinya memiliki total panjang 14,2 kilometer, bertambah sekitar dua kilometer dibanding rencana sebelumnya yang hanya sampai Manggarai sepanjang 12,2 kilometer.
“Kemarin saya sudah memutuskan dalam rapat setelah mendapatkan masukan, saran, pertimbangan, dan juga kemampuan fiskal Pemerintah DKI Jakarta, untuk LRT yang diputuskan adalah extention dari Manggarai sampai dengan Dukuh Atas untuk menuntaskan satu jalur mulai dari Velodrome sampai dengan Dukuh Atas,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Rabu.
Menurut Pramono, keputusan memperpanjang lintasan hingga Dukuh Atas dilakukan agar jalur tersebut benar-benar terkoneksi dengan pusat transportasi terpadu di Jakarta. Kawasan Dukuh Atas saat ini menjadi titik integrasi berbagai moda transportasi seperti MRT Jakarta, KRL Commuter Line, TransJakarta, hingga kereta bandara.
Pemprov DKI juga menambah nilai investasi proyek tersebut sekitar Rp2,7 triliun, untuk mendukung pengembangan lintasan tambahan dari Manggarai menuju Dukuh Atas.
Setelah proyek Velodrome–Dukuh Atas selesai, pembangunan jaringan LRT Jakarta akan dilanjutkan ke wilayah utara Jakarta. Jalur berikutnya direncanakan menghubungkan Velodrome menuju Jakarta International Stadium (JIS), Ancol, Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, hingga Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
“Sedangkan dari Velodrome, JIS, Ancol, kemudian nanti akan diteruskan sampai PIK 2 dan sampai dengan Soekarno-Hatta, rutenya diselesaikan kemudian. Sekarang baru selesai sampai dengan Ancol,” ungkap Pramono.
Sebelumnya, Pramono juga sempat menyampaikan, pengembangan LRT menuju kawasan utara Jakarta menjadi bagian penting dari konsep loop transportation system atau jaringan transportasi terintegrasi Jakarta.
“Untuk LRT, secara trase sebenarnya sudah mendapatkan izin dari pemerintah pusat sampai dengan Ancol,” ujar Pramono.
Hampir Rampung
Di sisi lain, progres pembangunan LRT Jakarta Fase 1B Velodrome–Manggarai disebut hampir rampung. PT Waskita Karya (Persero) Tbk mencatat progres proyek telah mencapai 92,76 %.
Direktur Operasi II Waskita Karya Paulus Budi Kartiko mengatakan, pihaknya bersama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) kini mulai memasuki tahapan Testing and Commissioning (T&C) atau pengujian sistem perkeretaapian sebelum operasional penuh dijalankan.
“Keselamatan konstruksi, baik dalam pengamanan konstruksi balance cantilever maupun pengguna jalan harus diutamakan,” kata Paulus.
Salah satu pengujian yang telah dilakukan yakni tes lintasan sepanjang 3,6 kilometer yang menghubungkan Stasiun Velodrome dengan Stasiun Pramuka. Menurut Paulus, tantangan terbesar pembangunan proyek tersebut adalah kondisi Jakarta yang padat serta keterbatasan ruang kerja di tengah kawasan perkotaan aktif.
“Dalam proses pengerjaan, tantangan utama (urban constraint) yang kami hadapi sebagai kontraktor di antaranya lalu lintas Jakarta yang padat dan ruang kerja terbatas. Maka solusinya, kami optimalkan waktu kerja pada malam hari yang menuntut fokus dan inovasi pada sistem keamanan dan sistem kerja, kami melihat ini sebagai constraint (hambatan) yang harus dikelola, bukan dihindari,” bebernya.
Salah satu titik konstruksi paling krusial berada di atas Jalan Tol Wiyoto Wiyono. Untuk menghindari gangguan lalu lintas selama pembangunan, Waskita menggunakan metode balance cantilever dengan bentang sepanjang 120 meter.
Paulus menyebut pendekatan tersebut berhasil menjaga proyek tetap aman tanpa kecelakaan kerja. “Perlintasan Wiyoto-Wiyono menjadi salah satu ikon terpenting dalam tes jalur beberapa waktu lalu. Maka, keberhasilan ini menandakan kemajuan konstruksi Indonesia yang dapat meramu moda transportasi umum berdampingan dengan jalur aktif eksisting di tengah kepadatan aktivitas Jakarta,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama Jakpro Iwan Takwin mengatakan, tahapan T&C dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan kesiapan seluruh sistem sebelum LRT dioperasikan secara komersial.
“Setiap meter pada jalur layang LRT Jakarta Fase 1B adalah tanggung jawab kami kepada masyarakat DKI Jakarta yang akan mengandalkan LRT setiap harinya. Maka itu, tahapan T&C ini harus dipersiapkan sangat matang," ucapnya.
Pengujian tersebut meliputi jalur rel, persinyalan, kelistrikan, komunikasi, hingga integrasi operasional kereta. “Hasil tes jalur atau train run yang sudah dilakukan dua kali berlangsung tanpa hambatan,” kata Paulus.
Proyek LRT Jakarta Fase 1B Velodrome–Manggarai sendiri mulai dibangun pada Oktober 2023 dengan total investasi sekitar Rp4,1 triliun dan ditargetkan mulai beroperasi penuh pada Agustus 2026.
Pengembangan LRT Jakarta menjadi bagian dari upaya besar Pemprov DKI memperkuat transportasi publik berbasis rel sekaligus mengurangi kemacetan dan emisi kendaraan di ibu kota. Berdasarkan data Dinas Perhubungan DKI Jakarta, jumlah pengguna transportasi umum di Jakarta terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah integrasi tarif dan konektivitas antarmoda mulai diperluas.
Selain LRT Jakarta, pemerintah pusat dan daerah juga tengah mengembangkan sejumlah proyek transportasi massal lain seperti MRT Jakarta fase lanjutan, integrasi KRL Jabodebek, hingga pengembangan Transit Oriented Development(TOD) di berbagai titik strategis Jakarta dan sekitarnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar