Periskop.id - Pemerintah Kota Depok menggelar Festival Depok Heritage 2026 pada 27–28 Juni 2026. Festival ini dipusatkan di kawasan Depok Lama, mulai dari Jalan Pemuda hingga area Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), sebagai upaya mengenalkan kembali sejarah Kaum Depok dan memperkuat identitas budaya kota.
Kepala Bidang Kebudayaan, Pengembangan Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Disporyata Kota Depok, Startik Sartika, mengatakan festival tersebut dirancang tidak hanya sebagai ruang hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.
"Festival Depok Heritage menjadi momentum untuk mengenalkan kembali sejarah Kaum Depok sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Depok kepada masyarakat," ujar Startik, sepeti dilansir Antara, Minggu (21/6).
Festival ini menghadirkan beragam agenda, mulai dari bazar UMKM, pameran foto heritage, mural sejarah, parade budaya, hingga pertunjukan musik nostalgia. Dengan rangkaian tersebut, Pemkot Depok ingin membawa warga dan pengunjung merasakan kembali suasana Depok Lama sebagai kawasan yang menyimpan jejak panjang sejarah kota.
Sebanyak 50 pelaku UMKM akan ikut meramaikan festival. Mereka akan menghadirkan berbagai produk lokal, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, hingga fesyen. Kehadiran UMKM menjadi bagian penting karena festival tidak hanya ingin menjaga memori sejarah, tetapi juga menggerakkan ekonomi kreatif warga.
Selain bazar, pengunjung dapat menikmati pameran foto heritage di Depok Historical Studio. Pameran ini menampilkan perjalanan sejarah Depok dari masa ke masa, termasuk wajah kawasan lama, kehidupan masyarakat, serta jejak budaya yang membentuk identitas kota.
"Kami ingin masyarakat bisa menikmati suasana Depok Lama sekaligus mengenal lebih dekat sejarah yang menjadi bagian dari identitas kota ini," tuturnya.
Festival juga melibatkan para seniman melalui Festival Art Depok Lama. Mereka akan membuat mural yang terinspirasi dari sejarah dan kehidupan masyarakat Depok. Aktivitas mural ini diharapkan menjadi ruang ekspresi kreatif sekaligus media edukasi budaya yang lebih dekat dengan generasi muda.
Sore harinya, suasana Depok Lama akan dibuat semakin hidup melalui parade budaya. Ratusan warga Kaum Depok dijadwalkan berjalan dari Jalan Pemuda menuju kawasan YLCC dengan mengenakan busana tempo dulu. Parade ini menjadi salah satu atraksi utama karena membawa pengunjung seolah kembali ke masa lalu.
"Parade budaya menjadi salah satu atraksi yang menggambarkan perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Depok dari masa ke masa," cetusnya.
Pada malam hari, festival akan berlanjut lewat acara Depok Lama Tembang Kenangan. Lagu-lagu populer era 1970 hingga 1980-an akan mengisi suasana nostalgia lintas generasi. Hari pertama festival kemudian ditutup dengan penampilan Koplo Disko yang memadukan musik modern dengan semangat kebersamaan masyarakat.
Rangkaian festival berlanjut pada 28 Juni 2026 dengan agenda internal YLCC berupa Ibadah Perayaan 312 Tahun Jemaat Masehi Depok di GPIB Immanuel Depok. Pada hari yang sama, masyarakat masih dapat menikmati pameran foto sejarah, bazar UMKM, serta menyaksikan penyelesaian akhir mural Festival Art Depok Lama.
Sejarah Kaum Depok
Festival ini memiliki makna penting karena Depok Lama bukan hanya kawasan tua secara geografis. Kawasan ini menyimpan jejak sejarah Kaum Depok, komunitas yang terbentuk dari warisan sejarah Cornelis Chastelein dan berkembang dengan identitas sosial-budaya yang khas.
Di tengah perkembangan Depok sebagai kota urban penyangga Jakarta, kawasan Depok Lama menjadi pengingat bahwa kota ini tidak hanya dibentuk oleh jalan raya, perumahan, mal, dan kampus, tetapi juga oleh sejarah komunitas, toleransi, dan keberagaman yang telah hidup selama ratusan tahun.
Karena itu, Pemkot Depok melihat Festival Depok Heritage sebagai bagian dari upaya merawat warisan budaya. Lebih dari sekadar acara dua hari, festival ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal Depok sebagai kota yang memiliki akar sejarah kuat.
"Harapannya masyarakat tidak hanya datang untuk menikmati hiburan, tetapi juga semakin mengenal sejarah kotanya, menghargai warisan budaya yang dimiliki, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap Depok sebagai rumah bersama," ujarnya.
Gagasan menjadikan Depok Lama sebagai destinasi wisata sejarah sebenarnya sudah lama disiapkan. Sebelumnya, Pemkot Depok bersama Fakultas Teknik Universitas Indonesia merancang pengembangan kawasan Heritage Depok Lama sebagai tujuan wisata sejarah.
Saat itu, Wakil Wali Kota Depok Imam Budi Hartono menyebut rencana tersebut juga akan melibatkan kerja sama dengan Pemerintah Belanda, mengingat kawasan Depok Lama memiliki peninggalan sejarah yang berkaitan dengan masa kolonial dan komunitas Kaum Depok.
"Semua perencanaan tengah disusun untuk mewujudkan Heritage Depok Lama tersebut. Namun, terlebih dahulu dilakukan kerja sama dengan Pemerintah Belanda," kata Wakil Wali Kota Depok Imam Budi Hartono.
Imam menjelaskan, pencanangan Heritage Depok Lama akan melibatkan banyak pihak, termasuk Pemkot Depok, Kedutaan Besar Belanda di Indonesia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia, komunitas, dan pelaku usaha. Kolaborasi ini diharapkan dapat melahirkan kawasan wisata budaya yang tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga memiliki daya tarik lebih luas.
"Kerja sama berlima untuk mewujudkan itu. Kita angkat budaya-budaya Depok, baik dari segi religius keislaman dan budaya sejarahnya akan dibuat museum peninggalan benda sejarah di Kota Depok dan satu kegiatan bersifat internasional karena sudah terbentuk di Depok. Semoga terealisasi tunggu saja," jelasnya.
Kepala Bappeda Kota Depok Dadang Wihana juga pernah menyebut kawasan tersebut akan diarahkan menjadi destinasi wisata bersejarah. Dengan demikian, Festival Depok Heritage 2026 bisa dibaca sebagai bagian dari langkah bertahap menuju pengembangan kawasan heritage yang lebih serius.
"Nantinya kawasan tersebut akan disulap menjadi destinasi wisata bersejarah," katanya.
Upaya revitalisasi Depok Lama juga disebut mulai berjalan pada 2026. Salah satu rencana yang dibahas adalah penataan kawasan Jalan Pemuda, termasuk perbaikan trotoar dan penurunan kabel udara ke bawah tanah agar kawasan lebih nyaman bagi pejalan kaki dan lebih kuat secara visual sebagai kawasan heritage.
Revitalisasi Kawasan Depok Lama
Boy Loen dari Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein pernah menjelaskan, revitalisasi kawasan Depok Lama juga dipersiapkan untuk memperingati 312 tahun Depok pada 28 Juni 2026. Menurut dia, penataan fisik kawasan menjadi langkah penting agar Depok Lama bisa tampil sebagai destinasi wisata sejarah yang lebih siap dikunjungi.
"Jadi mulai Januari 2026, itu trotoar Jalan Pemuda itu akan baguslah, yang nyaman lah. Sekarang kalau kita lihat kabel-kabel di atas itu kan diturunin. Di sana nggak boleh lagi. Proyek ini dipimpin langsung oleh tim ahli dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI) yang merancang desainnya," ujar Boy Loen selaku Sub Bidang Sejarah Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), kepada detikTravel di Cafe dekat rumahnya, Senin (22/12).
Ia juga menyebut salah satu rencana penting adalah pengembangan bangunan bekas Rumah Sakit Harapan yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Depok Lama.
"Pemerintahan sosial yang namanya Gemeente Bestuur. Yang tempatnya adalah yang rumah sakit Harapan ex rumah sakit Harapan itu tahun 2027 itu direnovasi, dikembalikan kepada gedung pertama ya. Jadi yang menampakkan bahwa itu adalah gedung pemerintahan tempat bermusyawarah masyarakat Depok. Depok lama itu akan antiklah, menjadi museum interaktif seperti Rijksmuseum di Amsterdam," tambahnya.
Dengan latar itu, Festival Depok Heritage 2026 menjadi momentum strategis. Festival ini bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkenalkan ulang Depok Lama kepada warga kota yang mungkin selama ini lebih mengenal Depok sebagai kawasan permukiman, kampus, atau jalur komuter.
Bagi sektor pariwisata, festival ini dapat membuka peluang baru. Wisata heritage memiliki pasar yang terus berkembang karena pengunjung tidak hanya mencari tempat foto, tetapi juga pengalaman, cerita, dan pemahaman tentang identitas sebuah kota.
Jika dikelola konsisten, Depok Lama dapat menjadi alternatif wisata sejarah di kawasan Jabodetabek. Posisinya yang dekat dengan Jakarta, akses transportasi yang relatif mudah, serta jejak sejarah yang unik bisa menjadi modal untuk menarik wisatawan lokal, komunitas sejarah, pelajar, mahasiswa, hingga diaspora Kaum Depok.
Namun, pengembangan kawasan heritage juga memiliki tantangan. Pemkot Depok perlu memastikan pelestarian bangunan bersejarah tidak kalah oleh tekanan pembangunan komersial. Infrastruktur pejalan kaki, penataan visual, informasi sejarah, keamanan, kebersihan, dan keterlibatan warga lokal harus menjadi bagian dari pengelolaan.
Festival juga perlu memberi ruang bagi masyarakat asli kawasan agar tidak sekadar menjadi objek tontonan. Kaum Depok, komunitas lokal, seniman, pelaku UMKM, dan pengelola situs sejarah harus menjadi bagian utama dari narasi dan manfaat ekonomi yang lahir dari agenda tersebut.
Lebih dari sekadar festival budaya, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa Depok dibangun di atas fondasi keberagaman. Dari sejarah Kaum Depok hingga kehidupan masyarakat saat ini, nilai toleransi, gotong royong, dan kebersamaan menjadi modal sosial yang terus dijaga.
Melalui Festival Depok Heritage, jejak panjang Kaum Depok tidak hanya dikenang, tetapi juga dirawat dan diwariskan. Di tengah perubahan kota yang cepat, sejarah dan keberagaman tetap menjadi identitas yang menyatukan warga Depok dari berbagai latar belakang.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar