Periskop.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menjadikan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta sebagai momentum untuk menyiapkan ibu kota memasuki usia lima abad. Bukan sekadar seremoni tahunan, peringatan kali ini diposisikan sebagai titik refleksi atas perjalanan panjang Jakarta sekaligus penegasan arah pembangunan menuju kota global yang tetap berbudaya.

Pesan itu disampaikan Pramono saat menjadi inspektur upacara HUT ke-499 DKI Jakarta di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Senin (22/6). Di hadapan peserta upacara, Pramono menekankan bahwa Jakarta kini berdiri di fase penting, yakni satu tahun sebelum memasuki usia 500 tahun.

Menurut Pramono, usia 499 tahun menjadi momen untuk melihat kembali sejarah panjang Jakarta, mengukur capaian yang sudah diraih, sekaligus menyiapkan langkah besar untuk masa depan. Jakarta, kata dia, harus terus bergerak sebagai kota yang terhubung, cerdas, inklusif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Ekonomi Jakarta Tetap Tumbuh di Tengah Tekanan Global

Dalam pidatonya, Pramono juga menyinggung situasi global yang belum sepenuhnya stabil. Eskalasi geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia dinilai ikut memengaruhi dinamika pertumbuhan ekonomi, termasuk bagi Jakarta sebagai pusat bisnis dan keuangan nasional.

Meski demikian, Pramono menyebut kondisi ekonomi Jakarta masih menunjukkan ketahanan. Inflasi Jakarta sepanjang 2025 tercatat tetap terkendali di level 2,45%. Sementara itu, realisasi investasi disebut mencapai Rp270 triliun pada kuartal pertama 2026.

Perekonomian Jakarta juga tumbuh 5,59% dan berkontribusi 16,67% terhadap perekonomian nasional. Capaian ini mempertegas posisi Jakarta sebagai salah satu motor ekonomi utama Indonesia, meskipun status ibu kota negara secara bertahap akan berpindah ke Ibu Kota Nusantara.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta juga menunjukkan ekonomi Jakarta pada triwulan I-2026 tumbuh 5,59% secara tahunan. Nilai Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku mencapai Rp1.028,44 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp585,31 triliun.

Dari sisi produksi, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 10,84%. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,72%, yang menunjukkan aktivitas warga masih menjadi penopang penting ekonomi Jakarta.

Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto sebelumnya menjelaskan, sektor perdagangan masih menjadi penggerak utama ekonomi ibu kota.

"Lapangan usaha perdagangan besar dan eceran memberikan kontribusi ekonomi DKI Jakarta yang paling besar, menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yang memberikan kontribusi sebesar 1,06 persen," kata Kadarmanto di Jakarta, Selasa.

Pemprov DKI Klaim Fokus pada Program yang Langsung Dirasakan Warga

Pramono mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap melakukan efisiensi dan penajaman program prioritas untuk merespons situasi ekonomi yang terus berubah. Fokus kebijakan, menurut dia, diarahkan pada program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berkomitmen untuk bekerja secara responsif dan adaptif agar masyarakat dapat beraktivitas, sekaligus memastikan kota ini terus melangkah menuju masa depannya,” ujar Pramono.

Pernyataan itu menjadi penekanan bahwa pembangunan Jakarta tidak hanya dibaca dari sisi angka ekonomi, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga layanan publik, mobilitas warga, ruang interaksi, hingga kualitas hidup masyarakat.

Dalam konteks ini, Jakarta menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, kota ini harus mempertahankan statusnya sebagai pusat ekonomi nasional. Di sisi lain, Pemprov DKI juga dituntut memastikan pembangunan tidak hanya menumpuk di kawasan pusat bisnis, tetapi ikut dirasakan warga di berbagai wilayah.

LRT, MRT, dan TOD Jadi Agenda Besar

Memasuki babak baru menuju usia 500 tahun, Pramono memaparkan sejumlah agenda strategis yang sedang disiapkan. Salah satu fokus utamanya adalah penguatan transportasi publik dan kawasan berbasis transit.

“Mulai dari persiapan pengoperasian LRT fase 1B Velodrome-Manggarai, pembangunan MRT fase 2A, hingga pembangunan pedestrian deck di kawasan TOD (Transit Oriented Development) Dukuh Atas yang telah terintegrasi,” papar Pramono.

Agenda ini penting karena konektivitas menjadi salah satu ukuran utama kota global. Transportasi yang terintegrasi bukan hanya memudahkan mobilitas warga, tetapi juga dapat menekan ketergantungan pada kendaraan pribadi, mengurangi kemacetan, serta memperkuat aktivitas ekonomi di sekitar simpul transit.

Sebelumnya, Pramono juga membuka peluang memperluas kelompok penerima layanan transportasi gratis. Ia menilai kebijakan subsidi harus diarahkan agar lebih adil, terutama bagi warga yang benar-benar membutuhkan.

“Kemungkinan akan kita tambah golongannya, akan kita gratiskan. Karena supaya subsidi silangnya itu lebih adil, bagi yang tidak mampu, gratis. Bagi yang mampu, ya, bayarnya lebih tinggi sedikit,” kata Pramono.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan transportasi Jakarta tidak hanya berbicara soal proyek infrastruktur, tetapi juga menyangkut keterjangkauan layanan bagi warga.

Kota Tua, Blok M, Pasar Baru, Glodok, dan Pecinan Disiapkan Jadi Hub Baru

Selain transportasi, Pramono juga menyoroti penataan sejumlah kawasan strategis, seperti Kota Tua, Blok M, Pasar Baru, Glodok, dan Pecinan. Kawasan-kawasan ini diarahkan menjadi hub baru untuk menggerakkan ekonomi, pariwisata, serta ruang interaksi warga.

Penataan tersebut menjadi penting karena Jakarta tidak bisa hanya bertumpu pada kawasan bisnis modern. Identitas kota juga dibangun dari sejarah, budaya, dan ruang publik yang hidup.

Kota Tua, misalnya, memiliki nilai historis yang kuat sebagai wajah masa lalu Jakarta. Blok M dalam beberapa tahun terakhir berkembang kembali sebagai kawasan anak muda, kuliner, dan ekonomi kreatif. Sementara Glodok dan Pecinan memiliki jejak panjang sebagai pusat perdagangan dan budaya Tionghoa di Jakarta.

Dengan menghidupkan titik-titik tersebut, Pemprov DKI berupaya menjadikan Jakarta bukan hanya kota kerja, tetapi juga kota yang menarik untuk dikunjungi, ditinggali, dan dirayakan.

Menuju Kota Global, Jakarta Tetap Dituntut Menjaga Budaya

Arah Jakarta menuju kota global juga diperkuat melalui agenda budaya dan pariwisata. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno sebelumnya menyebut Pemprov DKI sedang menyiapkan kalender kegiatan budaya dan pariwisata selama satu tahun penuh menjelang HUT ke-500 Jakarta pada 2027.

“Kami sedang mendesain kalender kegiatan dari Januari sampai Desember 2027. Setiap bulan akan ada kegiatan berskala internasional karena Jakarta sedang menuju kota global," kata Rano Karno.

Rano mengatakan, agenda budaya tidak hanya menjadi ruang pelestarian, tetapi juga dapat menggerakkan kunjungan wisata dan ekonomi kota. Ia menyebut kegiatan budaya, pariwisata, dan perhotelan perlu dikurasi agar memberi dampak terhadap sektor usaha serta memperkuat identitas Jakarta.

Dalam konteks ini, budaya Betawi menjadi salah satu elemen penting yang tidak boleh hilang. Jakarta boleh bergerak menuju kota global, tetapi karakter lokal tetap menjadi pembeda utama di tengah persaingan antarkota dunia.

Peringkat Kota Dunia Jadi Modal, tetapi Bukan Alasan Berpuas Diri

Momentum HUT ke-499 juga datang bersamaan dengan masuknya Jakarta ke daftar 100 Kota Terbaik Dunia 2026 versi Resonance Consultancy. Dalam laporan itu, Jakarta menempati peringkat ke-53 dunia, bahkan berada di atas Washington DC yang menempati posisi ke-57.

ANTARA melaporkan, penilaian tersebut melihat daya tarik wisata, popularitas media sosial, konektivitas transportasi, hingga aktivitas ekonomi. Jakarta juga disebut kuat dalam aspek lovability atau daya tarik kota, termasuk melalui ruang publik, destinasi wisata, pusat belanja, dan popularitas di media sosial.

Rano Karno menyambut capaian itu sebagai dorongan untuk memperbaiki kualitas kota.

"Saya bersyukur sekali, saya dapat berita dari Pak Gubernur. Jakarta masuk sebagai kota terbaik nomor 53. Bahkan yang namanya Washington DC, kalah katanya. Ini menjadi pecutan dan semangat bagi kita," ucap Rano.

Namun, capaian tersebut juga tidak bisa membuat Jakarta berpuas diri. Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dijawab, mulai dari kemacetan, banjir, polusi, hunian layak, ketimpangan ruang kota, hingga akses layanan publik yang merata.

Transformasi Digital dan AI Masuk Agenda Tata Kelola Kota

Selain infrastruktur fisik dan budaya, transformasi Jakarta menuju kota global juga menyentuh tata kelola berbasis teknologi. Sebelumnya, Pramono menyebut data, teknologi digital, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi faktor penting dalam daya saing kota.

“Data, teknologi digital, dan AI kini menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing bangsa dan kota. Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional punya tanggung jawab menjadi penggerak transformasi ini,” tutur Pramono.

Pemanfaatan teknologi disebut mulai diarahkan ke sektor yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan warga, seperti mobilitas, layanan publik, pengelolaan data spasial, ekonomi lokal, pengendalian inflasi daerah, hingga mitigasi banjir.

Dengan pendekatan ini, Jakarta ingin bergerak menjadi kota yang bukan hanya besar secara ekonomi, tetapi juga lebih responsif dalam membaca kebutuhan masyarakat.

HUT ke-499 Jadi Ujian Arah Baru Jakarta

Peringatan HUT ke-499 Jakarta pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan. Di usia yang hampir menyentuh lima abad, Jakarta sedang berada pada persimpangan besar: bukan lagi ibu kota administratif semata, tetapi tetap menjadi pusat ekonomi, budaya, bisnis, kreativitas, dan mobilitas nasional.

Pramono menegaskan bahwa perjalanan menuju lima abad harus dimaknai sebagai kerja bersama lintas generasi.

“Menuju lima abad Jakarta, momentum hari ini kita maknai bukan sekedar perayaan tahunan, melainkan ikhtiar lintas generasi untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global dan berbudaya,” ungkap Pramono.

Dengan fondasi ekonomi yang masih kuat, agenda transportasi yang terus berjalan, kawasan bersejarah yang ditata ulang, serta dorongan menjadi kota global, Jakarta memiliki modal besar untuk memasuki usia 500 tahun. Namun, ukuran keberhasilannya tetap akan kembali pada satu hal: sejauh mana perubahan itu benar-benar membuat hidup warga menjadi lebih mudah, adil, dan layak.