periskop.id - Bitcoin (BTC) sempat turun sampai menyentuh angka $74.000 sebelum akhirnya naik kembali di atas $76.000. Pergerakan ini menunjukkan pasar yang sedang rapuh, di mana ada pembeli yang memanfaatkan harga turun dan penjual yang terpaksa melepas aset karena situasi pasar.
Penurunan dan rebound cepat ini terjadi karena jumlah transaksi di pasar kripto tidak banyak, sehingga setiap transaksi beli atau jual kecil bisa memengaruhi harga secara signifikan. Dalam 12 jam terakhir, pasar kripto kembali mengalami gelombang penjualan paksa, dengan posisi leverage senilai $510 juta hilang.
Melansir CoinDesk, Senin (2/2), sebagian besar kerugian berasal dari posisi beli (long) sebesar $391,6 juta, menunjukkan banyak trader yang berharap harga naik. Sedangkan posisi jual (short) kehilangan $118,6 juta. Hal ini menunjukkan tekanan berkelanjutan karena pasar sedang tipis.
Di antara kripto besar, Ether (ETH) turun paling banyak, lebih dari 8% dalam 24 jam terakhir. BNB, XRP, dan Solana juga turun antara 4%–6%. Staked ether di Lido ikut turun mengikuti ETH, sementara Dogecoin dan TRON turun lebih kecil tapi stabil karena investor menjadi lebih berhati-hati.
Karena pasar sedang tipis, gelombang penjualan kecil saja cukup untuk menembus level dukungan $75.000 dan memicu likuidasi posisi leverage. Tapi karena kedalaman pasar juga dangkal, pembeli yang memanfaatkan harga turun dan penutupan posisi jual (short covering) bisa mendorong harga naik kembali dengan cepat.
Di sisi ekonomi global, kondisi di China memberikan konteks tapi tidak mempercepat pergerakan harga bitcoin. Survei manufaktur swasta Januari menunjukkan aktivitas pabrik sedikit meningkat, sementara indikator resmi masuk ke kontraksi. Ini menunjukkan ekonomi China bergerak tidak merata.
"Kebijakan yuan yang dikontrol ketat membuat pengaruh China terhadap bitcoin lebih lewat likuiditas dolar global, bukan aliran modal langsung," kata analis.
Data manufaktur yang sedikit lebih baik bisa mengurangi kekhawatiran resesi, tapi tanpa lonjakan volatilitas mata uang atau tambahan likuiditas dari stimulus, hal ini lebih berfungsi sebagai penstabil latar belakang, bukan pendorong pasar kripto.
Perdagangan di akhir pekan juga menambah kerentanan BTC. Dengan pasar tradisional tutup dan sebagian besar institusi besar tidak aktif, jumlah transaksi menipis, sehingga modal yang dibutuhkan untuk menggerakkan harga menjadi lebih sedikit.
Dalam kondisi seperti ini, bitcoin sering bergerak seperti aset yang dipengaruhi oleh posisi para trader sendiri, di mana ketidakseimbangan dana dan kumpulan order otomatis bisa menentukan arah harga untuk beberapa jam.
Saat ini, rebound di atas $76.000 menunjukkan penurunan sebelumnya lebih seperti reset posisi leverage daripada perubahan harga jangka panjang. Pasar masih tipis, jadi harga bisa turun atau naik lebih ekstrem dibanding kondisi fundamentalnya.
Sampai likuiditas pasar membaik atau faktor ekonomi global seperti dolar AS dan imbal hasil obligasi bergerak lebih signifikan, pergerakan harga bitcoin kemungkinan besar akan tetap dipengaruhi oleh posisi trader dan mekanisme pasar, bukan berita ekonomi besar.
Tinggalkan Komentar
Komentar