Periskop.id - Mata uang rupiah pada perdagangan Rabu (26/11) sore ditutup melemah tipis 7 poin ke level Rp16.664 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menyentuh pelemahan 20 poin dari penutupan sebelumnya di Rp16.656. Rupiah bergerak di tengah pelemahan indeks dolar AS.
Menurut pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan rilis data ekonomi AS yang tertunda menjadi faktor utama tekanan terhadap dolar. Selain itu, ketidakpastian geopolitik terkait perundingan damai Rusia-Ukraina juga menambah sentimen risiko global.
“Untuk perdagangan besok (27/11), rupiah diprediksi akan fluktuatif dan bergerak di rentang Rp16.660-Rp16.700,” ulas Ibrahim, Rabu (26/11).
Dari sisi eksternal, beberapa data ekonomi AS yang tertunda menunjukkan perkembangan mixed. Indeks Harga Produsen (IHP) utama bulan September naik 0,3% MoM, sesuai perkiraan, sementara IHP Inti naik 0,2% MoM, di bawah perkiraan 0,3%. Penjualan ritel tumbuh tipis 0,2% MoM, menurun dibandingkan kenaikan 0,6% pada bulan Agustus. Sentimen rumah tangga juga melemah, dengan Keyakinan Konsumen turun 6,8 poin menjadi 88,7 di bulan November.
“Signal dovish The Fed dalam beberapa hari terakhir mendorong pasar untuk meningkatkan taruhan penurunan suku bunga pada Desember,” lanjut Ibrahim Assuaibi.
Presiden The Fed San Francisco Mary Daly mendukung penurunan suku bunga, memperingatkan pasar tenaga kerja yang rentan. Gubernur Christopher Waller dan Presiden The Fed New York John Williams juga menyinggung ruang untuk pelonggaran jangka pendek. Saat ini, peluang penurunan suku bunga bulan Desember diperkirakan sekitar 80% menurut CME FedWatch Tool.
Di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi fokus perhatian. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan pertumbuhan 6% pada 2025, yang menurut Ibrahim Assuaibi realistis, tetapi membutuhkan pendekatan analisis ekonomi yang lebih fundamental.
“Pertumbuhan 6% itu bukan mimpi, namun memerlukan perubahan cara pandang terhadap kebijakan fiskal dan moneter serta bagaimana ekonomi didorong. Langkah menempatkan dana pemerintah di perbankan mulai terlihat hasilnya, tetapi masih jauh dari optimal,” jelasnya.
Beberapa langkah kunci yang disarankan untuk mendorong perekonomian, menurut Ibrahim, antara lain reformasi pasar tenaga kerja, dukungan industri dalam negeri, penertiban impor barang ilegal atau thrifting, dan pemberian insentif pajak bagi perusahaan yang membuka lapangan pekerjaan baru.
Tinggalkan Komentar
Komentar