periskop.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan rupiah berpotensi berada dalam rentang terbatas seiring sentimen global yang masih kuat.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun diperkirakan ditutup melemah di rentang Rp16.800 hingga Rp16.830,” kata Ibrahim, Kamis (25/2).
Sentimen eksternal masih didominasi kebijakan tarif impor Amerika Serikat dan ekspektasi suku bunga tinggi yang kembali ditegaskan pejabat Federal Reserve.
Presiden The Fed Boston Susan Collins menyatakan suku bunga kemungkinan akan tetap tidak berubah untuk beberapa waktu karena data pasar tenaga kerja membaik dan risiko inflasi masih ada. Pernyataan serupa juga disampaikan Presiden The Fed Chicago Austin Goolsbee dan Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic.
Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik menjelang putaran ketiga pembicaraan antara AS dan Iran di Jenewa yang berlangsung Kamis.
Dari domestik, perhatian investor tertuju pada peringkat Baa2 dari Moody’s Ratings terhadap obligasi pemerintah Indonesia serta proyeksi pertumbuhan ekonomi sekitar 5% dalam beberapa tahun ke depan.
Moody’s memperkirakan rasio utang pemerintah akan tetap stabil di sekitar 40% terhadap PDB, namun mengingatkan adanya risiko pelebaran defisit fiskal jika ekspansi belanja tidak diimbangi reformasi penerimaan negara.
Pelaku pasar diperkirakan tetap berhati-hati sambil menunggu perkembangan kebijakan global dan arah suku bunga AS dalam jangka pendek.
Tinggalkan Komentar
Komentar