periskop.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini, Rabu 4 Maret 2026, di tengah penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.870- Rp16.910,” kata Pengamat mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi,  Rabu (4/3).

Adapun pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup melemah tipis 4 poin ke level Rp16.872 per dolar AS dari penutupan Rp16.868, setelah sempat menguat 10 poin di sesi awal. indeks dolar AS menguat pada Selasa (3/3) dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Dari sentimen eksternal, perang udara yang meluas membuat Israel menyerang Lebanon, sementara Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk dan kapal tanker di Selat Hormuz.

Kekhawatiran meningkat setelah pejabat senior Garda Revolusi Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz dan memperingatkan akan menembak kapal yang melintas. Sekitar 20% minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan konflik melawan Iran bisa berlangsung cukup lama, meski tidak hingga bertahun-tahun. Kondisi ini membuat harga minyak berpotensi tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan.

Selain faktor geopolitik, pasar juga menantikan pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS, seperti Presiden The Fed New York John Williams, Presiden The Fed Kansas City Jeff Schmid, dan Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari. Pernyataan yang cenderung agresif (hawkish) berpotensi semakin memperkuat dolar AS.

“Fokus investor pekan ini juga tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat, termasuk laporan ADP dan Nonfarm Payrolls (NFP), yang akan membentuk ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Fed. Data inflasi yang masih tinggi membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat,” ulas Ibrahim.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar US$0,95 miliar. Surplus ini memperpanjang tren positif selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Surplus ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas yang mencapai US$21,26 miliar atau naik 4,38% secara tahunan, dengan komoditas utama seperti lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, neraca migas masih mencatat defisit US$2,27 miliar.