periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026, seiring penguatan indeks dolar AS serta meningkatnya ketegangan geopolitik global. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditutup melemah 11 poin ke level Rp16.903 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp16.892.

“Rupiah sempat menguat sekitar 10 poin pada perdagangan hari ini, namun akhirnya ditutup melemah 11 poin di level Rp16.903 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.892,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (5/3).

Dari faktor eksternal, indeks dolar AS tercatat menguat pada perdagangan Kamis. Menurut Ibrahim, pasar juga merespons meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Kamis pagi.

“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung mencari aset safe haven sehingga menopang penguatan dolar AS,” ujarnya.

Situasi semakin memanas setelah sebuah kapal selam Amerika Serikat dilaporkan menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka yang menewaskan sedikitnya 80 orang. Sementara itu, pertahanan udara NATO menghancurkan rudal balistik Iran yang ditembakkan ke arah Turki.

Pasukan Iran juga dilaporkan menyerang kapal tanker minyak di sekitar Selat Hormuz, sementara ledakan dilaporkan terjadi di dekat kapal tanker di lepas pantai Kuwait menurut Operasi Perdagangan Maritim Inggris.

Eskalasi konflik tersebut terjadi di tengah dinamika politik internal Iran setelah putra pemimpin tertinggi Iran yang telah wafat muncul sebagai kandidat kuat untuk menggantikannya. Kondisi ini dinilai meningkatkan ketidakpastian global dan mengguncang pasar keuangan.

Selain itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya. Langkah ini dipandang pasar sebagai sinyal yang lebih ramah terhadap potensi penurunan suku bunga di masa mendatang.

Di kawasan Asia, pemerintah Tiongkok menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di kisaran 4,5% hingga 5%, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sekitar 5% pada tahun sebelumnya. Target ini memberikan ruang bagi Beijing untuk menyeimbangkan ekonomi dan mengatasi kelebihan kapasitas industri.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia merespons keputusan lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level BBB dengan outlook negatif.

“Afirmasi rating BBB dari Fitch tetap mencerminkan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang kuat. Penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi domestik,” ujar Ibrahim.

Bank Indonesia juga menilai stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, didukung likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang relatif rendah.

Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid dengan inflasi yang terkendali. Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 4,9% hingga 5,7% dan berpotensi meningkat pada 2027.

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tercatat sebesar US$154,6 miliar atau setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor. Angka tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.900 hingga Rp16.940 per dolar AS,” kata Ibrahim.