periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026, seiring penguatan indeks dolar AS serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat pelaku pasar cenderung mencari aset safe haven. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditutup melemah 20 poin ke level Rp16.925 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp16.903.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 20 poin, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 40 poin di level Rp16.925 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.903,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (6/3).

Dari faktor eksternal, indeks dolar AS tercatat menguat pada perdagangan Jumat. Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang telah memasuki hari ketujuh tanpa tanda-tanda mereda.

Pertempuran antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat dalam sepekan terakhir dengan serangan rudal dan aksi balasan yang menyebar di berbagai wilayah. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan keinginannya untuk berperan dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya setelah perang berakhir. Pernyataan tersebut semakin menambah ketidakpastian terhadap arah politik di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, harga minyak dunia melanjutkan kenaikan kuat karena konflik tersebut mengancam infrastruktur energi utama serta jalur pelayaran di kawasan Teluk. Lonjakan harga minyak mentah memicu kekhawatiran akan gelombang inflasi global baru.

Kenaikan harga energi tersebut dinilai dapat mempersulit langkah bank sentral global, termasuk Federal Reserve AS. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi mendorong inflasi sehingga membuat pembuat kebijakan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Selain itu, investor juga menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau non-farm payrolls (NFP) untuk Februari yang dijadwalkan keluar pada Jumat malam. Data tersebut dinilai dapat memberikan sinyal baru terkait kekuatan pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter AS.

Dari dalam negeri, pemerintah berupaya meningkatkan tax ratio atau rasio pajak setelah menjadi salah satu pertimbangan lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings dalam merevisi outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Dalam satu dekade terakhir, tax ratio Indonesia berada di kisaran 9% hingga 10% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angkanya bahkan menurun dari 10,08% pada 2024 menjadi 9,31% pada 2025.

Fitch memproyeksikan rasio pendapatan negara terhadap PDB Indonesia hanya akan mencapai rata-rata 13,3% pada periode 2026-2027, jauh di bawah median negara dengan peringkat serupa kategori BBB yang berada di level 25,5%.

Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan salah satu upaya yang sedang didorong untuk meningkatkan penerimaan negara adalah implementasi pembaruan sistem inti administrasi perpajakan atau Coretax bersama Kementerian Keuangan.

Revisi outlook dari Fitch tersebut menjadi perhatian pemerintah untuk mengevaluasi dan memperbaiki arah kebijakan ke depan, khususnya dalam memitigasi risiko dari sisi penerimaan negara yang dinilai masih lemah.

Selain itu, Fitch juga menyoroti tingginya belanja sosial pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan menelan porsi sekitar 1,3% terhadap PDB pada periode 2025-2029.

“Untuk perdagangan Senin depan, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.920 hingga Rp16.960 per dolar AS,” ujar Ibrahim.

Ia menambahkan pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan diperkirakan berada pada rentang Rp16.850 hingga Rp17.100 per dolar AS.