periskop.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pelemahan dalam perdagangan pekan depan. Kondisi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan domestik yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah kemungkinan masih cenderung melemah. Terlebih, aktivitas pasar diperkirakan lebih terbatas menjelang libur panjang Idulfitri.

“Rupiah dalam perdagangan di minggu depan kemungkinan masih akan terus mengalami pelemahan,” kata Ibrahim kepada wartawan, Senin (16/3).

Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah berasal dari kondisi fiskal dalam negeri. Menurutnya, potensi pelebaran defisit anggaran dapat mempengaruhi sentimen pelaku pasar terhadap mata uang domestik.

“Pelemahan mata uang rupiah disebabkan oleh defisit anggaran yang kemungkinan besar akan lebih dari 3 persen. Bahkan Menko Perekonomian mengatakan bisa di lebih dari 4 persen,” imbuh Ibrahim.

Selain itu, Ibrahim menilai periode libur panjang Idulfitri juga dapat memicu tekanan terhadap rupiah. Hal ini karena aktivitas perdagangan biasanya menjadi lebih terbatas selama periode tersebut.

“Libur panjang untuk Idulfitri ini yang ditakutkan bahwa rupiah ini akan tembus ke level tertingginya,” katanya.

Ia menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir rupiah juga menunjukkan pola pelemahan pada periode yang berdekatan dengan libur Idulfitri. Kondisi ini menurutnya menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar.

“Di tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2024-2025 pun juga mengalami pelemahan yang cukup signifikan terhadap mata uang rupiah itu bersamaan dengan libur Idulfitri,” ujar Ibrahim.

Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah juga dapat meningkat jika ketidakpastian global terus berlanjut. Dalam kondisi tersebut, pelemahan rupiah diperkirakan dapat mencapai level tertentu.

“Sehingga rupiah pelemahannya kemungkinan besar itu bisa mencapai di level Rp17.150 sampai di Rp17.200,” katanya.