periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, ke level Rp17.002 per dolar AS. Pelemahan 19 poin ini terjadi dari penutupan sebelumnya di Rp16.983, seiring menguatnya indeks dolar AS dan meningkatnya ketegangan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Rupiah sore ini ditutup melemah 19 poin di level Rp17.002 dari penutupan sebelumnya Rp16.983, sebelumnya sempat melemah 45 poin,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Kamis (2/4).

Sentimen eksternal menekan rupiah karena Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan terus menyerang Iran, termasuk target energi dan minyak, selama beberapa minggu ke depan, tanpa memberikan jangka waktu spesifik untuk mengakhiri konflik.

Intensifikasi serangan juga menimbulkan risiko terhadap lalu lintas maritim, setelah sebuah kapal tanker minyak yang disewa QatarEnergy dihantam rudal jelajah Iran di perairan Qatar. Pasar kini menantikan serangkaian data ekonomi AS akhir pekan ini, termasuk Klaim Pengangguran Awal mingguan dan Data Ketenagakerjaan Non-Pertanian (NFP).

Dari dalam negeri, pemerintah memperkirakan defisit APBN bisa melebar dari target 2,68% terhadap PDB menjadi sekitar 2,9% akibat bengkaknya belanja subsidi, terutama karena kenaikan harga minyak dunia yang dipicu perang Timur Tengah. Pemerintah tetap memiliki ruang fiskal, dengan strategi penghematan belanja kementerian/lembaga dan pemanfaatan saldo anggaran lebih (SAL), serta menahan harga BBM agar APBN tetap menjadi shock absorber terhadap kenaikan energi.

“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah diperkirakan akan fluktuatif dan ditutup melemah di rentang Rp17.000–Rp17.040,” tutup Ibrahim.