periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (22/5). Hal itu dipicu kombinasi sentimen global terkait konflik Iran dan tekanan domestik terhadap persepsi risiko ekonomi Indonesia.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian eksternal serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fundamental dalam negeri.
“Rupiah tertekan akibat belum adanya kepastian dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, serta meningkatnya tekanan inflasi global yang mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga,” ujarnya.
Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 47 poin ke level Rp17.716 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.669. Rupiah bergerak dalam tekanan sepanjang hari seiring meningkatnya sentimen negatif di pasar.
Tekanan Global: Konflik Iran dan Inflasi
Dari eksternal, pasar merespons negatif ketidakjelasan progres negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan. Sejumlah pejabat Iran menyatakan belum ada kesepakatan yang tercapai, terutama terkait isu strategis seperti pengelolaan Selat Hormuz dan program nuklir uranium.
Ketidakpastian ini memperbesar risiko konflik berkepanjangan, yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global dan menjaga harga minyak tetap tinggi. Kondisi tersebut memicu tekanan inflasi global.
Kenaikan inflasi mendorong bank sentral global, termasuk The Fed, untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi bahkan berpotensi menaikkan suku bunga lebih lanjut. Pasar memperkirakan peluang kenaikan hingga 50 basis poin hingga akhir tahun.
Selain itu, dinamika kepemimpinan di bank sentral AS juga belum memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat, seiring tekanan inflasi yang masih tinggi.
Sentimen Domestik: Risiko Fiskal dan Arus Modal
Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Lembaga pemeringkat internasional disebut berpotensi menurunkan peringkat utang Indonesia akibat risiko defisit fiskal yang melebar mendekati batas 3%.
Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi yang optimistis di kisaran 5,8%-6% dinilai kurang sejalan dengan kondisi global yang masih penuh tekanan, sehingga memicu keraguan investor.
Tekanan juga datang dari kebijakan pemerintah terkait pengelolaan komoditas yang berpotensi dilakukan melalui satu pintu, yang dikhawatirkan menciptakan distorsi pasar dan meningkatkan risiko monopoli.
Aliran modal asing tercatat keluar cukup deras, meskipun Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan stabilisasi dan pemerintah melakukan intervensi melalui penjualan surat utang negara.
Prospek Rupiah
Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada awal pekan depan masih akan berada dalam tekanan. Untuk sepekan ke depan, rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp17.680 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Secara keseluruhan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik global, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, serta respons pasar terhadap kebijakan fiskal dan ekonomi domestik.
“Untuk perdagangan Senin, rupiah diperkirakan dibuka melemah dalam rentang Rp17.710 hingga Rp17.760 per dolar AS,” jelasnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar