periskop.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (21/5), dengan kecenderungan melemah terbatas setelah sebelumnya ditutup menguat tipis terhadap dolar AS. Sentimen global yang masih didominasi penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik diperkirakan kembali menekan mata uang domestik.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut, meski rupiah sempat menguat pada perdagangan sebelumnya, tekanan eksternal masih cukup dominan sehingga ruang penguatan cenderung terbatas.
“Rupiah masih akan bergerak fluktuatif. Tekanan dolar AS dan perkembangan konflik geopolitik masih menjadi faktor utama yang dicermati pasar,” ujar Ibrahim, Kamis (21/5).
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas namun tetap volatil, dengan kecenderungan melemah ringan akibat dominasi sentimen eksternal.
“Rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.720 per dolar AS, dengan risiko pelemahan masih terbuka jika dolar AS kembali menguat,” kata Ibrahim.
Secara keseluruhan, arah rupiah hari ini masih akan sangat dipengaruhi dinamika global, terutama pergerakan dolar AS dan perkembangan geopolitik, sementara kebijakan moneter domestik berperan sebagai penahan tekanan agar pelemahan tidak lebih dalam.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup menguat 52 poin ke level Rp17.653 per dolar AS, setelah sempat bergerak dalam rentang volatil intraday.
Tekanan Global: Dolar AS Masih Jadi Penentu
Dari sisi eksternal, indeks dolar AS masih menguat seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik, terutama terkait konflik di Timur Tengah yang turut memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Situasi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, masih berpotensi mempertahankan sikap hawkish atau bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan.
Di sisi lain, pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konflik Iran–AS yang dinilai berubah-ubah turut menambah ketidakpastian pasar, sehingga investor cenderung masuk ke aset safe haven seperti dolar AS.
Sentimen Domestik: BI Jaga Stabilitas Rupiah
Dari dalam negeri, stabilitas rupiah masih ditopang kebijakan moneter ketat dari Bank Indonesia yang sebelumnya menaikkan suku bunga acuan untuk meredam tekanan eksternal dan menjaga inflasi tetap dalam target.
Selain itu, sentimen positif jangka menengah juga datang dari target pertumbuhan ekonomi pemerintah yang tetap optimistis, meski belum cukup kuat untuk sepenuhnya mengimbangi tekanan global.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar