periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis (21/5), di tengah penguatan indeks dolar global yang dipicu eskalasi konflik Iran serta meningkatnya kekhawatiran inflasi global.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang sama-sama membebani pergerakan mata uang Garuda

“Rupiah tertekan seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global. Konflik Iran serta ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi faktor utama,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (21/5).

Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 13 poin ke level Rp17.667 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.653. Sebelumnya, rupiah sempat melemah hingga 30 poin.

Tekanan Global: Konflik Iran dan Sikap The Fed

Dari eksternal, indeks dolar AS menguat seiring pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut perang dengan Iran berada di “tahap akhir”, namun tetap membuka kemungkinan aksi militer lanjutan jika negosiasi gagal.

Kondisi ini membatasi optimisme pasar, terlebih dengan masih tertutupnya sebagian Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global. Gangguan pasokan tersebut menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi global.

Iran juga memperketat kontrol atas Selat Hormuz dengan membentuk otoritas baru dan menetapkan zona maritim terkontrol. Sebelumnya, kawasan ini menyumbang sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global.

Selain itu, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan mayoritas pejabat The Fed membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap di atas target 2%, terutama akibat dampak perang Iran terhadap harga energi.

Sentimen Domestik: Kebijakan Ekspor dan BI Rate

Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari kebijakan pemerintah yang memperketat aturan ekspor komoditas utama seperti minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy melalui satu eksportir milik negara.

Pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I, setelah sebelumnya Indonesia mencatat defisit pada kuartal IV akibat pelebaran selisih harga minyak.

Di sisi lain, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Kebijakan ini dinilai tidak hanya sebagai instrumen teknis, tetapi juga upaya menjaga kepercayaan pasar, mengendalikan ekspektasi inflasi, serta menahan potensi arus keluar modal. Namun, langkah tersebut juga berisiko meningkatkan biaya pinjaman, menekan kredit, dan memperlambat investasi.

Prospek Rupiah

Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat (22/5/2026) akan cenderung fluktuatif dengan tekanan pelemahan terbatas.

“Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.660 hingga Rp17.710 per dolar AS,” jelasnya.

Secara keseluruhan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh dinamika global, terutama konflik Iran dan arah kebijakan suku bunga AS, serta respons kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.