periskop.id - Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (20/5/2026), di tengah penguatan indeks dolar global yang dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah terjadi seiring respons positif pasar terhadap sentimen domestik, meskipun tekanan eksternal masih cukup kuat.
“Rupiah ditutup menguat tipis di tengah penguatan dolar AS. Pasar masih mencermati perkembangan konflik Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga The Fed,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (20/5).
Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup menguat 52 poin ke level Rp17.653 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.703. Sebelumnya, rupiah sempat melemah hingga 25 poin.
Tekanan Global: Dolar AS dan Konflik Timur Tengah
Dari eksternal, indeks dolar AS menguat seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan konflik berpotensi berakhir cepat, namun pernyataan yang berubah-ubah membuat pelaku pasar tetap waspada.
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik tersebut memicu gangguan besar pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga energi, yang berdampak pada peningkatan tekanan inflasi global.
“Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, berpotensi kembali menaikkan suku bunga,” kata Ibrahim.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada akhir tahun naik menjadi sekitar 50%, dari sebelumnya 35%.
Sentimen Domestik: Pidato Prabowo dan Kebijakan BI
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,8%-6,5% pada 2027. Pemerintah juga menargetkan inflasi tetap terjaga di kisaran 1,5%-3,5%.
Selain itu, Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,25% dan Lending Facility menjadi 6,25%.
Menurut BI, langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah memburuknya kondisi global serta memastikan inflasi tetap dalam target 2,5±1% pada 2026–2027.
Prospek Rupiah
Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis (21/5/2026) akan cenderung fluktuatif dengan potensi pelemahan terbatas.
“Untuk perdagangan besok Kamis (21/5), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.650 hingga Rp17.700 per dolar AS,” jelasnya.
Secara keseluruhan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi dinamika global, terutama perkembangan konflik Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga AS, di tengah upaya stabilisasi yang dilakukan otoritas domestik.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar