periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin, 20 April 2026, ke level Rp17.168 per dolar AS. Penguatan sebesar 21 poin ini terjadi dari penutupan sebelumnya di Rp17.188, meski di tengah tekanan penguatan indeks dolar AS akibat memanasnya kembali konflik di Timur Tengah.
“Rupiah sore ini ditutup menguat 21 poin di level Rp17.168 dari penutupan sebelumnya Rp17.188, sebelumnya sempat menguat 25 poin,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Senin (20/4).
Dari eksternal, indeks dolar AS menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Selat Hormuz kembali ditutup. Penutupan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran saling menuding pelanggaran gencatan senjata, termasuk insiden penyerangan kapal selama akhir pekan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan militer AS telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade. Di sisi lain, Iran menegaskan tidak akan melanjutkan pembicaraan damai, meskipun AS mengancam akan kembali melancarkan serangan udara.
Kondisi ini memperburuk ketidakpastian global, mengingat Selat Hormuz sebelumnya menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia. Dampaknya, harga minyak melonjak hingga 7% pada Senin, memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi.
Selain itu, ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga AS mulai bergeser ke arah kebijakan “higher for longer”, seiring tekanan inflasi dari kenaikan harga energi dan ketidakstabilan geopolitik.
“Tekanan eksternal masih cukup kuat, terutama dari penguatan dolar AS dan lonjakan harga energi akibat konflik,” jelas Ibrahim.
Dari dalam negeri, Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan pemerintah untuk tidak melakukan belanja berlebihan di tengah meningkatnya risiko global. IMF juga menyoroti potensi krisis energi apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut tanpa solusi yang jelas.
Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan fasilitas energi di kawasan tersebut dinilai dapat mempersempit ruang fiskal, terutama di tengah tren peningkatan utang publik. IMF juga menilai kebijakan subsidi dan intervensi harga berisiko membebani anggaran jika tidak dirancang dengan tepat.
Meski demikian, IMF menyarankan Bank Indonesia untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga selama ekspektasi inflasi masih terjaga.
Tinggalkan Komentar
Komentar