periskop.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 21 April 2026. Pelemahan terjadi di tengah tekanan eksternal yang masih kuat dari penguatan dolar AS serta meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.160 hingga Rp17.200 per dolar AS.

“Untuk perdagangan Selasa (21/4), mata uang rupiah diperkirakan akan fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp17.160–Rp17.200,” ujar Ibrahim Assuaibi, dikutip Selasa (21/4).

Sebelumnya, rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin, 20 April 2026, ke level Rp17.168 per dolar AS. Penguatan sebesar 21 poin ini terjadi dari penutupan sebelumnya di Rp17.188, meski di tengah tekanan penguatan indeks dolar AS akibat memanasnya kembali konflik di Timur Tengah.

Dari eksternal, pasar masih dibayangi eskalasi konflik di Timur Tengah setelah kembali ditutupnya Selat Hormuz. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak hingga meningkatkan kekhawatiran inflasi global, yang kemudian memperkuat posisi dolar AS.

Selain itu, ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih bertahan ketat lebih lama turut menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, peringatan Dana Moneter Internasional (IMF) terkait keterbatasan ruang fiskal serta risiko krisis energi juga menjadi perhatian pelaku pasar. Ketidakpastian global dinilai berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar dalam jangka pendek.

Meski Bank Indonesia didorong tetap menjaga stabilitas tanpa terburu-buru menaikkan suku bunga, pasar tetap akan sensitif terhadap perkembangan inflasi, harga energi, dan dinamika global.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam tekanan terbatas, meski tetap memiliki ruang stabilisasi sesuai proyeksi.