periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu, 22 April 2026, di tengah tekanan eksternal dari penguatan dolar AS serta meningkatnya ketegangan geopolitik global. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah ditutup melemah sebesar 38 poin ke level Rp17.181 per dolar AS, setelah sempat melemah hingga 45 poin.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 38 poin di level Rp17.181 dari penutupan sebelumnya di Rp17.142, setelah sempat melemah hingga 45 poin,” ujar Ibrahim Assuaibi, Rabu (22/4).
Dari eksternal, indeks dolar AS menguat seiring meningkatnya ketidakpastian global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran secara sepihak, meski belum mendapat respons resmi dari Teheran maupun sekutunya.
Ketegangan juga meningkat setelah Iran menegaskan akan melawan blokade laut yang dilakukan AS. Sementara itu, lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan energi global, terpantau terganggu signifikan, memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi global.
Di sisi lain, dinamika kebijakan moneter AS turut menjadi perhatian pasar setelah munculnya wacana perubahan arah kebijakan The Fed yang cenderung lebih ketat.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kondisi likuiditas pemerintah. Jatuh tempo utang yang mencapai Rp833,96 triliun pada 2026 memunculkan kekhawatiran pasar terhadap risiko pembiayaan ulang (refinancing) dalam skala besar.
Selain itu, keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dinilai sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar, meski di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
Tinggalkan Komentar
Komentar