periskop.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Jumat, 24 April 2026. Tekanan dari faktor global dan domestik dinilai masih akan membayangi pergerakan rupiah.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan ruang pelemahan rupiah masih terbuka, seiring sentimen pasar yang belum membaik.

"Kemudian dalam perdagangan berikutnya di besok, kemungkinan besar rupiah ini akan diperdagangkan melemah juga di Rp17.280 sampai Rp17.340," ujarnya, Jumat (23/4).

Ia menilai sentimen eksternal masih didominasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda. Selain itu, pasar juga masih menunggu arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat.

"Pasar masih apatis terhadap kepemimpinan baru bank sentral Amerika karena sebelumnya cenderung mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga," jelasnya.

Dari sisi domestik, tekanan datang dari tingginya harga minyak mentah dunia yang berdampak pada kebutuhan impor energi Indonesia. Kondisi ini meningkatkan permintaan dolar AS di pasar.

Selain itu, kebutuhan pembiayaan pemerintah juga menjadi perhatian, termasuk penerbitan surat utang dan pembayaran utang jatuh tempo yang membutuhkan dana besar.

Meski Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valas, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih cukup kuat. Pergerakan rupiah dalam jangka pendek pun cenderung berada dalam tren melemah.