periskop.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Selasa (19/5), seiring penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global.
Rupiah bergerak di zona merah sepanjang perdagangan dan ditutup lebih rendah dibandingkan posisi sebelumnya. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, tekanan terjadi sejak awal sesi seiring dominasi sentimen eksternal.
“Rupiah ditutup melemah 35 poin di level Rp17.703 per dolar AS, setelah sempat melemah hingga 70 poin dari posisi sebelumnya Rp17.680,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (19/5).
Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar AS yang mendapat dukungan dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan terhadap Iran memberikan respons beragam di pasar.
Di satu sisi, penundaan tersebut membuka ruang negosiasi. Namun di sisi lain, konflik yang masih berlangsung tetap menimbulkan ketidakpastian terhadap stabilitas kawasan.
Risiko juga meningkat setelah Selat Hormuz, jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia, disebut terdampak konflik. Kekhawatiran gangguan pasokan energi mendorong pelaku pasar mencari aset safe haven seperti dolar AS.
Selain faktor geopolitik, pasar turut mencermati perubahan kepemimpinan bank sentral AS. Rencana pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter ke depan.
Dari dalam negeri, pelemahan rupiah mulai menimbulkan tekanan pada sektor riil, terutama yang bergantung pada bahan baku impor. Ibrahim mencatat, gandum 100% impor, kedelai sekitar 90%, bawang putih 95%, gula 60%, serta daging sapi dan kerbau sekitar 54% masih bergantung pada impor. Kondisi tersebut membuat tekanan kurs berpotensi cepat merambat ke harga pangan.
“Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor karena mayoritas transaksi menggunakan dolar AS, sehingga berdampak langsung pada harga produk olahan di tingkat konsumen,” jelas Ibrahim.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar