periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin (18/5), seiring penguatan dolar AS yang dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Tekanan eksternal dari lonjakan harga energi hingga eskalasi geopolitik membuat mata uang Garuda bergerak di zona merah sepanjang hari.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan dan berlanjut hingga penutupan sesi sore.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah melemah 71 point di tutup di 17.667. sebelumnya sempat melemah 85 point di level Rp17.680 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.597,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (18/5).

Menurutnya, penguatan dolar AS menjadi faktor dominan yang menekan rupiah. Hal ini dipicu oleh meningkatnya risiko inflasi global akibat lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Prospek suku bunga tinggi membuat dolar AS semakin menarik bagi investor global.

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar. Serangan terhadap fasilitas energi dan meningkatnya retorika militer antara AS dan Iran memicu kekhawatiran eskalasi konflik.

Serangkaian serangan drone di kawasan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga menambah tekanan, karena berpotensi mengganggu pasokan energi global dan memperkuat harga minyak.

Di sisi lain, kebijakan Amerika Serikat yang menghentikan pengecualian sanksi pembelian minyak Rusia turut memperketat suplai energi global. Hal ini semakin memperkuat tekanan inflasi dan menopang dolar AS.

Dari dalam negeri, pasar turut merespons pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait dampak dolar AS terhadap masyarakat. Pernyataan tersebut dinilai memengaruhi persepsi pelaku pasar di tengah pelemahan rupiah.

Ia menegaskan, pelemahan rupiah saat ini terjadi di tengah kombinasi tekanan global dan domestik yang cukup berat. Penguatan dolar AS turut mendorong kenaikan harga minyak mentah, yang pada akhirnya meningkatkan beban impor energi Indonesia.

“Pernyataan dari Presiden Prabowo ini juga berdampak fatal terhadap kelemahan mata uang rupiah,” ujar Ibrahim.

Selain itu, terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam menyimpan dana. Peralihan dari rupiah ke valuta asing dinilai semakin menekan nilai tukar di pasar domestik. Di sisi lain, pernyataan Presiden yang menyebut pelemahan rupiah tidak berdampak bagi masyarakat kampung dinilai memperburuk psikologis pasar. Pernyataan tersebut bahkan dianggap tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Ibrahim menilai, komentar tersebut secara tidak langsung juga bisa ditafsirkan sebagai sindiran terhadap kinerja para menteri di kabinet yang belum mampu menahan tekanan terhadap rupiah.

“Ini sebenarnya bisa dianggap mengolok-olok pembantu Presiden sendiri, para menterinya. Kenapa para menterinya tidak bisa membuat rupiah ini kembali menguat?” tegasnya.

Menurutnya, sebagian pelaku pasar melihat pernyataan itu sebagai sinyal ketidakpastian arah kebijakan pemerintah dalam menghadapi pelemahan rupiah yang cukup signifikan. Dalam situasi seperti ini, pemerintah seharusnya menyampaikan langkah konkret, mulai dari pengelolaan impor energi hingga percepatan implementasi program B50 sebagai substitusi bahan bakar fosil.

“Seharusnya pemerintah memberikan masukan tentang kebutuhan minyak mentah yang tinggi, kemudian akan ada B50 sebagai pendamping bahan bakar fosil, serta bagaimana menangani krisis agar rupiah kembali menguat,” jelas Ibrahim.