periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Jumat (19/6), di tengah penguatan indeks dolar AS serta dinamika sentimen global yang masih menjadi penggerak utama pasar keuangan.
Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup melemah 7 poin ke level Rp17.801 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.794. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat tertekan hingga melemah 55 poin sebelum akhirnya memangkas pelemahan di sesi akhir.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi oleh kekuatan dolar AS dan ekspektasi kebijakan moneter global yang ketat.
“Indeks dolar AS menguat, sehingga menekan mata uang emerging market termasuk rupiah,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, jumat (19/6).
Sentimen Global: Dolar Menguat, Risiko Geopolitik Mulai Mereda
Dari sisi eksternal, sentimen pasar global cenderung membaik setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan sementara untuk meredakan konflik dan membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Kesepakatan tersebut membuka peluang kembalinya pasokan minyak global yang sebelumnya terganggu, sekaligus menurunkan premi risiko geopolitik yang sempat mendorong harga minyak menembus US$120 per barel.
Meski demikian, kondisi belum sepenuhnya stabil setelah Israel kembali melancarkan serangan udara, yang memicu keraguan terhadap keberlanjutan kesepakatan damai tersebut.
Di sisi lain, pasar juga merespons sikap bank sentral Amerika Serikat yang masih agresif. Sebanyak 9 dari 19 pejabat The Fed memperkirakan adanya kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir tahun.
Komentar Ketua The Fed yang cenderung hawkish turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan mengangkat dolar ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Sentimen Domestik: MSCI Soroti Transparansi Pasar RI
Dari dalam negeri, sentimen datang dari hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026 yang memberikan penilaian negatif terhadap aspek information flow Indonesia.
MSCI menyoroti masih terbatasnya transparansi terkait struktur kepemilikan saham serta adanya indikasi perdagangan terkoordinasi di pasar modal domestik. Kondisi ini dinilai mengganggu proses pembentukan harga yang wajar dan menyulitkan investor dalam mengukur free float.
Selain itu, MSCI juga menilai pasar valuta asing Indonesia masih memiliki keterbatasan, terutama karena belum adanya pasar offshore yang efisien serta berbagai restriksi di pasar domestik.
Meski demikian, MSCI tetap mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market. Keputusan ini menjadi penopang sentimen positif karena meredakan kekhawatiran arus keluar dana asing secara besar-besaran.
Proyeksi Rupiah: Masih Fluktuatif
Untuk perdagangan Senin (22/6), rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp17.800–Rp17.850 per dolar AS. Sementara untuk sepekan ke depan, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang yang lebih lebar, yakni Rp17.500 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Ibrahim menilai arah rupiah masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan global, terutama kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, serta stabilitas geopolitik.
“Selama dolar AS masih kuat dan suku bunga global tinggi, rupiah cenderung berada dalam tekanan, meskipun sentimen domestik relatif terjaga,” tutupnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar