periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan urusan stabilitas nilai tukar sepenuhnya merupakan kewenangan Bank Sentral. Purbaya enggan menanggapi fenomena pelemahan rupiah menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat belakangan ini.

​Purbaya menyampaikan pernyataan ini saat menemui awak media di Jakarta pada Senin (16/3). "Saya ngga tau kenapa itu melemah. Anda harus tanyakan ke Bank Sentral kalau Rupiah," kata Purbaya.

​Ia meminta publik meminta penjelasan langsung kepada otoritas moneter terkait dinamika ini. "Anda tanya yang betul ke Bank Sentral apa yang terjadi. Karena tanggung jawab Bank Sentral hanya satu, menjaga stabilitas nilai tukar," ujar Purbaya.

​Data pasar memang mengonfirmasi tren pelemahan mata uang nasional. Berdasarkan laporan Bloomberg pada Senin (16/3) pukul 14.36 WIB, nilai tukar rupiah tertekan cukup dalam.

​Mata uang Garuda ini menyentuh posisi Rp17.000 per dolar AS. Angka ini mencatat pelemahan sebesar 42,00 poin di level 0,25%.

​Purbaya memiliki alasan menolak berkomentar lebih jauh mengenai pergerakan angka tersebut. Ia tidak ingin memicu persepsi keliru di ruang publik.

​Komentar dari kementeriannya berpotensi dianggap sebagai bentuk campur tangan pemerintah. "Kalau saya ngomong kan nanti bahaya. Intervensi kebijakan Bank Sentral," terang Purbaya.

​Ia menyerahkan kewenangan teknis stabilitas moneter ini sepenuhnya ke institusi terkait. "Saya gak ngerti itu. Jadi harus tanya ke Bank Sentral," tambah Purbaya.

​Meski mata uang terdepresiasi, Purbaya menilai kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan masih sangat baik. Aktivitas perekonomian tetap berjalan solid.

​Secara teori ekonomi makro, fundamental kuat semestinya sejalan dengan tren penguatan mata uang lokal. "Kalau ekonominya lagi lari, lagi lari kenceng, makin kenceng, harusnya fundamentalnya baik," jelas Purbaya.

​Oleh sebab itu, ia melihat anomali antara kondisi riil ekonomi nasional dan pergerakan nilai tukar saat ini. "Kalau normal, Rupiah harusnya menguat," ungkap Purbaya.

​Purbaya menutup pernyataannya dengan kembali menunjuk otoritas yang berwenang. "Jadi anda tanya ke Bank Sentral kenapa melemah," tutup Purbaya.