periskop.id - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengaku perasaannya tercambuk melihat peristiwa bencana banjir-longsor Sumatra. Peristiwa ini menjadi dorongan dirinya untuk berefleksi terhadap pengelolaan hutan.

“Peristiwa ini juga melecut (mencambuk) saya sebagai pimpinan dan jajaran pimpinan di Kementerian Kehutanan untuk berefleksi dan mengevaluasi secara menyeluruh terhadap tata kelola hutan sehingga peristiwa serupa dapat dimitigasi dengan lebih baik di kemudian hari,” kata Raja Juli Antoni, dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR RI bersama Menteri Kehutanan, di Gedung DPR, Kamis (4/12).

Raja Juli juga mengucapkan duka cita mendalam atas bencana yang terjadi di tiga provinsi, yaitu Sumatra Utara (Sumut), Sumatra Barat (Sumbar), dan Aceh.

“Atas nama Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, saya mengucapkan bela sungkawa, luka mendalam terhadap bencana yang didapati oleh saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat serta daerah lainnya yang terhadap banjir dan tanah longsor karena itu kita ucapkan inna lillahi wa inna illaihi Rojiun.” ungkap Raja Juli.

Terhadap bencana tersebut, Raja Juli mengumumkan, pihaknya selalu memberikan bantuan melalui unit pelaksana teknis (UPT) di Sumatra.

“Kami di Kementerian Kehutanan sesuai dengan perintah Pak Presiden Prabowo Subianto melalui Mensesneg (Prasetyo Hadi) dan Seskab (Teddy Indra Wijaya) terus menggalang bantuan terutama melalui UPT-UPT di Sumatra untuk membantu berbagi solidaritas dengan para korban terdampak,” ujar Raja Juli.

Diketahui, berdasarkan data resmi dari laman BNPB, per Kamis (4/12) sekitar pukul 07.10 WIB, BNPB mencatat sebanyak 776 korban meninggal dunia, 564 orang hilang, dan 2.600 orang luka-luka. 

Dari data korban tersebut, secara rinci, BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia berdasarkan provinsi, yaitu sebanyak 299 di Sumut, sejumlah 277 di Aceh, dan sebanyak 200 di Sumbar. 

Dari setiap provinsi itu, terdapat Kabupaten/Kota yang memiliki korban meninggal dunia paling banyak. Di Sumbar, ada 147 korban meninggal dunia di Kabupaten/Kota Agam. Di sisi lain, di Aceh, tepatnya di Kabupaten/Kota Aceh Utara, ada 112 korban meninggal dunia. Sementara itu, di Sumut, tepatnya Kabupaten/Kota Tapanuli Tengah, ada 86 korban meninggal dunia.  

BNPB juga mendata kerusakan pada fasilitas umum yang secara keseluruhan sebanyak 354 terdampak bencana banjir-longsor di tiga provinsi. Secara rinci, fasilitas umum yang rusak itu, yaitu 9 fasilitas kesehatan, 213 fasilitas pendidikan, 132 fasilitas peribadatan, 110 gedung atau kantor, dan 295 jembatan.