periskop.id - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkapkan temuan tingginya peredaran produk pangan tanpa izin edar (TIE) di sejumlah wilayah Indonesia, dengan Kota Tarakan menempati peringkat teratas mencapai angka 16,9% disusul DKI Jakarta.
“Produk yang tertahan terlalu lama atau disimpan tidak sesuai standar lebih rentan rusak dan berisiko melewati masa kedaluwarsa sebelum sampai ke konsumen,” ujar Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (18/12).
Data pengawasan BPOM menunjukkan sebaran pangan ilegal cukup signifikan di kota-kota besar. Setelah Tarakan, posisi kedua ditempati Jakarta sebesar 11,3%, diikuti Pekanbaru 6,1%, serta Dumai dan Tasikmalaya masing-masing 0,7%.
Taruna menyoroti wilayah Indonesia bagian timur sebagai zona rawan peredaran pangan kedaluwarsa dan rusak. Panjangnya rantai pasok serta buruknya sistem manajemen gudang dituding menjadi biang kerok penurunan kualitas produk.
Kondisi penyimpanan yang sembarangan bukan hanya menurunkan mutu fisik makanan. Lebih dari itu, produk rusak menyimpan potensi bahaya serius bagi kesehatan konsumen yang mengonsumsinya.
Merespons situasi ini, BPOM memperketat pengawasan terpadu. Radar pemantauan tidak hanya menyasar pasar konvensional, tetapi juga diperluas ke ekosistem e-commerce untuk mencegah peredaran barang ilegal secara daring.
Kepatuhan pelaku usaha terhadap standar Cara Peredaran Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) terus didorong. Penerapan prosedur distribusi yang ketat dinilai efektif meminimalkan risiko kerusakan barang sebelum sampai ke tangan pembeli.
Pemanfaatan teknologi digital turut dioptimalkan lewat sistem pelaporan daring. Mekanisme ini memungkinkan masyarakat dan petugas melaporkan temuan produk mencurigakan secara real-time dan akurat.
Taruna menegaskan keamanan pangan adalah hak fundamental warga yang tidak bisa ditawar. BPOM berkomitmen memastikan program pengawasan berjalan efektif demi perlindungan publik.
"Masyarakat berhak mendapatkan pangan yang tidak hanya lezat dan bergizi, tapi juga aman untuk dikonsumsi,” pungkas Taruna.
Tinggalkan Komentar
Komentar