periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan strategi distribusi logistik dan energi ke wilayah terisolir di Aceh Tengah dan Bener Meriah kini dilakukan dengan metode hibrida, mengombinasikan jalur darat dan jembatan udara karena faktor cuaca yang masih belum menentu.

“Untuk Aceh Tengah dan Bener Meriah, ini untuk logistik truk sudah bisa melewati jalur akses RKA (Rute Komunikasi Alternatif), tetapi memang masih sangat bergantung pada kondisi cuaca,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam konferensi pers daring, Sabtu (27/12).

Abdul menjelaskan, ketergantungan pada cuaca membuat opsi pengiriman udara menjadi sangat vital. Hal ini dilakukan untuk menjamin rantai pasok kebutuhan dasar warga tidak terputus saat jalan darat licin atau berisiko longsor.

Pasokan energi, khususnya Bahan Bakar Minyak (BBM), menjadi prioritas utama yang harus ditembus ke lokasi bencana. Data BNPB menunjukkan tren positif dalam penyaluran solar ke dua kabupaten yang aksesnya paling sulit tersebut.

“Per hari ini BBM terdistribusi itu 35 drum solar. Ulangi, kemarin ada 27,5 drum di Aceh Tengah dan 7,5 drum di Bener Meriah,” rinci Abdul.

Selain bahan bakar kendaraan dan genset, pemerintah juga bergerak cepat mengatasi potensi kelangkaan gas untuk kebutuhan memasak. Operasi pasar digelar secara masif menyasar kecamatan-kecamatan terdampak.

Kerja sama dengan Pertamina digalakkan untuk memastikan dapur warga tetap mengepul. Ribuan tabung gas LPG dikerahkan menggunakan armada truk menembus medan yang menantang.

“Pemerintah menyalurkan 5.500 tabung LPG melalui 11 truk di 6 kecamatan di Kabupaten Bener Meriah. Ini terus dilakukan operasi pasar sehingga kebutuhan masyarakat untuk gas rumah tangga ini bisa terus terpenuhi,” jelasnya.

Secara akumulatif, volume bantuan yang dikirimkan dari pusat cukup besar. Dari Lanud Halim Perdanakusuma, tercatat 1.402 ton logistik telah berhasil didistribusikan dari total stok 1.426 ton.

Khusus untuk Provinsi Aceh, BNPB mencatat telah melakukan 18 kali penerbangan atau sorties udara. Total muatan yang diangkut via langit mencapai 15,6 ton untuk menjangkau titik-titik yang sulit.

Sementara itu, untuk wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat, distribusi logistik berjalan lebih lancar. Pulihnya sebagian besar akses jalan nasional membuat pengiriman bantuan bisa dioptimalkan sepenuhnya melalui jalur darat.

Abdul memastikan pihaknya bersama Pertamina dan instansi terkait tidak akan mengendurkan upaya distribusi. Kondisi infrastruktur yang rusak tidak boleh menjadi alasan warga tidak mendapatkan hak dasarnya.

“Tentu saja ini akan dilakukan secara berkala. Pertamina terus melakukan upaya-upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat khususnya di dua kabupaten kota ini agar benar-benar kondisi akses jalan ini tidak mempengaruhi upaya untuk memenuhi kebutuhan logistik,” pungkas Abdul.