periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama lintas kementerian tengah mengebut penyusunan dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana (R3P) yang akan menjadi "Buku Putih" atau cetak biru pembangunan kembali wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan target penyelesaian pada pertengahan Januari mendatang.
“Ini yang sedang kita kerjakan saat ini dengan target memang di tengah Januari itu sudah bisa kita selesaikan. Target jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang itu sudah bisa kita breakdown per kabupaten kota,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers daring, Sabtu (27/12).
Abdul menjelaskan bahwa dokumen R3P ini sangat vital karena akan menjadi landasan hukum dan teknis bagi setiap pemerintah daerah dalam membangun kembali wilayahnya. Di dalamnya akan termuat detail sektor apa saja yang harus dipulihkan, kerangka waktu pengerjaan, hingga spesifikasi teknisnya.
Proses penyusunan dokumen ini dilakukan secara paralel dengan masa tanggap darurat. BNPB menggandeng Kementerian Pemukiman, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Pekerjaan Umum (PU), serta pemerintah daerah agar perencanaan berjalan komprehensif.
Untuk mempercepat proses, BNPB telah membuka desk penyusunan khusus di setiap provinsi. Mekanisme ini memungkinkan tim penyusun bekerja maraton menyerap data dan aspirasi langsung dari level kabupaten.
“Saat ini BNPB di setiap provinsi sudah membuka desk penyusunan ini. Ini salah satunya di Sumatera Barat, kita buat per setengah hari itu per kabupaten. Kita susun sama-sama, semuanya menyerap aspirasi dan keinginan yang mungkin diangkat dari bawah,” ujarnya.
Tidak hanya birokrat, penyusunan Buku Putih ini juga melibatkan pakar dari berbagai disiplin ilmu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Geologi, hingga kalangan akademisi universitas lokal dilibatkan penuh.
Pelibatan para ahli ini bertujuan agar kajian rehabilitasi benar-benar aman dari risiko bencana di masa depan. Faktor geologis dan klimatologis menjadi pertimbangan utama dalam menentukan lokasi dan model pembangunan ulang.
“Itu kita libatkan supaya kajian ini benar-benar komprehensif. Yang kita harapkan kerangkanya, tulang punggungnya itu sudah bisa terlihat,” jelas Abdul.
Nantinya, dokumen ini akan memuat peta jalan yang jelas. Mulai dari apa yang harus dikerjakan segera, target capaian menengah, hingga visi pembangunan jangka panjang untuk pemulihan ekonomi dan sosial masyarakat.
Abdul berharap dokumen strategis ini bisa segera disepakati bersama. Dengan adanya R3P, arah pembangunan pascabencana akan lebih terukur, terarah, dan memiliki standar keselamatan yang lebih baik.
Tinggalkan Komentar
Komentar