periskop.id – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebutkan adanya temuan sejumlah video viral di media sosial terkait makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak layak, ternyata merupakan konten rekayasa yang sengaja dibuat demi mengejar keuntungan monetisasi "Facebook Pro".
“Tapi tidak sedikit juga yang membuat viral karena dia menggunakan contoh Facebook Pro, sehingga semakin viral dia semakin beruntung padahal kontennya salah,” kata Dadan saat menjawab pertanyaan anggota dewan dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi IX DPR RI, Jakarta, Selasa (20/1).
Dadan menyoroti fenomena konten kreator dadakan yang memanfaatkan isu sensitif makanan siswa untuk mendulang engagement. Demi mendapatkan bayaran dari platform media sosial, oknum-oknum tersebut membangun narasi bohong seolah-olah makanan yang dibagikan basi atau tidak sesuai standar.
Tim pengawas BGN di lapangan kerap menemukan ketidaksesuaian antara video yang beredar dengan fakta di lokasi. Penelusuran menunjukkan bahwa visual makanan rusak tersebut seringkali dikondisikan hanya untuk kebutuhan rekaman video semata.
Pihaknya memastikan selalu melakukan verifikasi mendetail (check point per point) terhadap setiap aduan viral. Melalui proses validasi ini, BGN dapat mengidentifikasi mana keluhan murni dari orang tua murid dan mana yang sekadar konten mencari sensasi.
“Kami biasanya tahu ini serius, ini bukan,” ujarnya.
Meskipun banyak konten palsu, Dadan menegaskan pihaknya tetap terbuka terhadap kritik yang valid. Ia justru mengapresiasi masyarakat yang memviralkan kejadian asli karena hal tersebut membantu BGN mendisiplinkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kinerjanya buruk.
“Kami berterima kasih kepada seluruhnya terutama untuk yang serius. Ketika melaporkan kualitas makanan yang jelek di SPPG itu, kami senang karena dengan begitu maka Badan Gizi dibantu oleh masyarakat untuk menegur SPPG-nya,” tambah Dadan.
BGN meminta masyarakat agar lebih kritis dalam menyerap informasi yang beredar di media sosial, khususnya terkait program makan gratis. Narasi negatif yang dibangun demi algoritma media sosial dinilai dapat mengaburkan upaya perbaikan tata kelola yang sedang berjalan.
Terkait kasus viral di Tangerang yang sempat disinggung dalam rapat, Dadan menyatakan pihaknya telah mengantongi data kronologis lengkap. Penanganan kasus tersebut dilakukan berdasarkan bukti objektif, bukan semata-mata karena tekanan viral di dunia maya.
Untuk memastikan akurasi laporan, BGN menyarankan wali murid menggunakan kanal pengaduan resmi "Sahabat Gizi" di nomor 127. Layanan ini beroperasi 24 jam untuk menampung dan menindaklanjuti keluhan tanpa motif monetisasi.
Tinggalkan Komentar
Komentar