Periskop.id - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Aceh Utara, Aceh, meroket hingga 150%, pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh pada November 2025 lalu. Berdasarkan laporan puskesmas setempat, sampai minggu ke-2 Februari ini, ada 3.944 (kasus ISPA) yang terdata.

“Kalau dibandingkan dengan minggu ke-2 Februari 2025, itu di data kami 1.574 (kasus ISPA). Ada kenaikan,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara dr. Ferianto, Rabu (18/2). 

Merespons peningkatan kasus ISPA, Ferianto menyampaikan Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara membuat sosialisasi dan membagikan masker kepada masyarakat yang terdampak bencana.

“Yang sudah kami buat adalah sosialisasi. Itu kami lakukan oleh puskesmas. Yang lain adalah mengajak masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan memakai masker,” ujar Ferianto.

Terkait dengan pembagian masker, Dinkes Aceh Utara mengajukan permohonan bantuan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Aceh untuk memberi tambahan. Ferianto mengungkapkan, permasalahan yang saat ini dihadapi oleh Aceh Utara adalah kurangnya masker yang bisa diberikan kepada masyarakat.

“Masker (tambahannya) kemungkinan bukan masker yang medis, jadi masker yang bisa dicuci, kemudian dipakai lagi,” ucapnya.

Ia menyoroti pentingnya pengadaan masker yang bisa dipakai berulang kali untuk melindungi masyarakat dalam jangka panjang. Cuaca ekstrem, baik yang terlalu kering maupun curah hujan yang terlalu tinggi, sama-sama bisa meningkatkan kasus ISPA.

Kemarau ekstrem menyebabkan lumpur pascabanjir menjadi debu, sedangkan hujan deras menyebabkan kelembaban yang juga bisa meningkatkan ISPA.

“Jadi, kami coba dengan masker yang bisa didaur ulang. Artinya, masyarakat masih bisa menyimpan masker tersebut dan bisa digunakan dalam jangka lama,” kata Ferianto.