Periskop.id - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah memastikan, proses pemulangan jamaah umrah ke Indonesia berjalan dengan pengawasan dan pendampingan yang intensif. Hingga 3 Maret 2026 sudah 10.060 orang pulang ke Tanah Air.
“Kami memastikan seluruh jamaah mendapatkan pendampingan secara langsung, mulai dari proses check-in hingga keberangkatan,” ujar Staf Teknis Urusan Haji KJRI Jeddah Muhammad Ilham Effendy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/3).
KJRI Jeddah melakukan pengawasan langsung di seluruh area pelayanan jamaah, khususnya Terminal 1 dan Terminal Haji. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen negara dalam memastikan perlindungan maksimal bagi jamaah.
KJRI Jeddah juga menegaskan perlindungan jamaah menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pemulangan mengingat kondisi eskalasi yang terjadi. “Negara hadir untuk memberikan perlindungan, terutama bagi jamaah yang menghadapi kendala penerbangan,” ujar Ilham.
Meski banyak peserta umrah yang telah kembali sesuai jadwal, berdasarkan data per 3 Maret 2026, terdapat 300 orang mengalami keterlambatan penerbangan (stranded). Jamaah tersebut tersebar di Kota Jeddah dan Makkah, dengan kendala utama pada jadwal penerbangan lanjutan serta koordinasi visa dan penerbangan transit.
Menanggapi hal tersebut, KJRI Jeddah melalui Tim Teknis Urusan Haji melakukan sejumlah langkah koordinasi berkelanjutan dengan maskapai penerbangan, untuk memastikan kepastian jadwal keberangkatan.
“Memastikan penyediaan konsumsi dan kebutuhan dasar bagi jemaah yang masih menunggu penerbangan. Berkoordinasi dengan pihak travel dan penanggung jawab visa guna mempercepat penyelesaian administrasi,” jelasnya.
“KJRI juga memantau secara bergiliran selama 24 jam untuk mengantisipasi potensi penumpukan jamaah,” imbuhnya.
Meskipun jumlah jamaah yang tertahan cukup signifikan, seluruh kondisi dapat ditangani secara koordinatif dan terkendali. “Kami terus siaga 24 jam. Prinsipnya, tidak boleh ada jamaah yang merasa ditinggalkan. Perlindungan dan pendampingan adalah tanggung jawab yang kami jalankan secara penuh,” tegasnya.
Berdasarkan laporan melalui Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh) pada Minggu (1/3) tercatat sekitar 58.873 orang peserta umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi untuk melaksanakan umrah.
Jamaah Umrah Mandiri
Sementara itu, Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina mengingatkan, pentingnya memastikan keamanan jamaah umrah mandiri yang saat ini berada di Arab Saudi dan terdampak situasi konflik di Timur Tengah.
“Yang harus diawasi itu adalah keberadaan jamaah umrah mandiri,” kata Selly dalam keterangannya di Cirebon, Jawa Barat, Rabu.
Ia mengatakan, keberadaan jamaah umrah mandiri harus menjadi perhatian, karena pola keberangkatan dan kepulangan mereka berbeda. Menurut dia, sebagian jamaah umrah mandiri berpotensi kembali ke Tanah Air tidak melalui penerbangan langsung, melainkan melalui negara-negara transit.
“Mereka bisa saja melakukan kepulangan tidak menggunakan pesawat yang direct, langsung ke Indonesia, tetapi berangkat melalui negara-negara transit,” tuturnya.
Dengan pola perjalanan tersebut, kata dia, pemerintah perlu melakukan koordinasi dengan negara-negara transit melalui perwakilan RI, baik KJRI maupun Konjen, terutama di negara yang terdampak konflik Selly menuturkan DPR saat ini terus berkoordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) untuk melakukan advokasi terhadap 58.000 jamaah yang saat ini berada di Arab Saudi.
Koordinasi tersebut, lanjut dia, harus bersifat administrative, serta diikuti langkah-langkah konkret guna memastikan perlindungan dan kepulangan jamaah berjalan aman. Di luar itu, pihaknya mendorong Kemenhaj mengantisipasi kebutuhan akomodasi dan logistik apabila terjadi keterlambatan kepulangan jamaah.
Ia menyampaikan antisipasi tersebut mencakup kemungkinan, adanya Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) atau travel yang tidak bertanggung jawab dan menelantarkan jamaah di Arab Saudi. “Sehingga mau tidak mau Kemenhaj harus juga melakukan sweeping terhadap para jamaah yang ada di sana (Arab Saudi),” ucap Selly.
Ia mengungkapkan berdasarkan pembaruan data terakhir, sebanyak 6.000 orang jamaah umrah telah dipulangkan ke Indonesia. Selly menambahkan pemerintah akan terus memperbarui informasi secara berkala serta mengimbau masyarakat untuk menunda keberangkatan ibadah umrah selama kondisi di Timur Tengah belum sepenuhnya aman.
“Yang paling terpenting adalah mengimbau kepada para jamaah umrah di Indonesia, menunggu untuk bisa atau menahan diri untuk tidak melakukan pemberangkatan,” pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar