periskop.id -Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap keluarga menjadi faktor utama yang memicu gangguan kesehatan jiwa pada remaja di Indonesia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut konflik keluarga serta pola pengasuhan yang tidak sehat berkontribusi besar terhadap munculnya keinginan bunuh diri pada anak usia sekolah.
Temuan tersebut disampaikan Budi berdasarkan sejumlah hasil survei dan pengumpulan data yang dilakukan Kemenkes bersama berbagai lembaga. Salah satunya melalui Global School-Based Student Health Survey (GSHS) yang dilaksanakan bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Survei tersebut dilakukan pada 2015 dan kembali pada 2023 untuk mengukur kondisi kesehatan mental remaja, terutama terkait kecenderungan berpikir dan mencoba bunuh diri.
“Yang diukur dua hal, anak-anak yang berpikir ingin bunuh diri dan anak-anak yang sudah mencoba bunuh diri. Yang mengejutkan bagi kita adalah angkanya naik tinggi,” kata Budi saat konferensi pers di Gedung Kemenkes, Jakarta, Senin (9/3).
Hasil survei menunjukkan persentase remaja yang memiliki pikiran untuk bunuh diri meningkat dari 5,4% pada 2015 menjadi 8,5% pada 2023, atau naik sekitar 1,6 kali lipat. Kenaikan lebih tajam terjadi pada remaja yang mencoba bunuh diri, yakni dari 3,9% pada 2015 menjadi 10,7% pada 2023.
Selain data survei tersebut, Kemenkes juga menggabungkan dataset lain terkait kondisi kesehatan mental remaja. Data itu berasal dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta layanan bantuan krisis kesehatan mental Sejiwa 119 atau Healing 119, yang menjadi pusat layanan panggilan bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan psikologis.
Berdasarkan data gabungan tersebut, tercatat 115 anak meninggal akibat bunuh diri sepanjang periode 2023 hingga 2025, dengan mayoritas korban berada pada rentang usia 11 hingga 17 tahun.
Budi mengatakan pemerintah juga menelusuri faktor penyebab di balik kasus-kasus tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor keluarga justru menjadi penyebab terbesar, melampaui kondisi psikologis individu anak.
“Penyebab nomor satu ternyata bukan dari psikologi anaknya, tetapi dari keluarganya. Jadi kalau keluarganya penuh konflik, kemudian ada masalah dalam pola pengasuhan, itu menjadi salah satu penyebab paling tinggi untuk bunuh diri,” ujarnya.
Faktor kedua berasal dari lingkungan sosial dan pendidikan, terutama perundungan (bullying) serta tekanan akademik yang dialami remaja di sekolah. Menurut Budi, kedua faktor ini memiliki kontribusi besar terhadap tekanan mental yang dirasakan anak.
“Kita lihat bahwa faktor kedua yang paling besar adalah dari lingkungan mereka, baik itu teman-temannya maupun akademiknya atau pembelajarannya,” kata dia.
Sementara itu, faktor ketiga baru berasal dari kondisi psikologis internal anak, seperti kecemasan dan depresi.
Budi menilai dua faktor terbesar, yakni keluarga dan lingkungan, sebenarnya dapat dicegah melalui perbaikan pola pengasuhan serta lingkungan sosial yang lebih sehat bagi anak.
“Kalau kita bisa menjaga pola asuh yang baik di level keluarga dan menjaga pola sosial serta pola pendidikan yang sehat di sekolah, itu bisa menurunkan secara drastis penyebab masalah kesehatan jiwa sehingga anak-anak ingin bunuh diri,” ujarnya.
Sebelumnya, Kemenkes juga mencatat sekitar 5 persen remaja Indonesia mengalami gejala kecemasan (anxiety) dan depresi, yang menjadi bagian dari indikator awal masalah kesehatan mental pada anak dan remaja.
Pemerintah menilai upaya pencegahan perlu melibatkan keluarga, sekolah, serta lingkungan sosial secara bersamaan agar masalah kesehatan mental pada remaja tidak terus meningkat.
Tinggalkan Komentar
Komentar