Periskop.id - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menargetkan, hunian sementara (huntara) bisa diselesaikan kurang dari 10 hari ke depan. Tujuannya, agar sebelum Lebaran, tidak ada lagi warga terdampak bencana Sumatera yang masih tinggal di tenda.
"Sudah kami rapatkan berkali-kali. Jauh berkurang cepat sekali dari 12 ribu, sekarang tinggal 6 ribu, sekarang tinggal 1600-an," kata Tito di Jakarta, Kamis (12/3), dalam acara donasi 31 ambulans dari pihak swasta untuk Kementerian Kesehatan guna pemulihan pasca-bencana Sumatera.
Mendagri, dalam pertemuan bersama Kementerian Pekerjaan Umum, Danantara, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), meminta hunian sementara diselesaikan dalam waktu 10 hari. Menurutnya, pembangunan huntara harus segera selesai, karena tidak baik apabila di tenda terus, mengingat risiko kesehatan mental dan fisik bagi para pengungsi.
"Gatal segala macam. Yang bahaya kalau anak-anak kena campak," tuturnya.
Ketiga institusi, katanya, terus membangun huntara. Nantinya, warga boleh memilih, antara tinggal langsung di huntara atau mendapatkan dana tunggu hunian, untuk mereka menyewa.
"Karena saya dengar nanti Bapak Presiden mungkin ke sana (huntara). Entah sebelum Lebaran atau pas Lebaran, atau setelah Lebaran. Jadi, jangan sampai ada lagi yang di tenda," tuturnya.
Terkait hunian, katanya, tempat tinggal bagi para tenaga kesehatan perlu diprioritaskan, karena mereka yang mengurus orang lain. Tito menyebutkan diberikan anggaran Rp15 juta untuk renovasi rumah yang rusak ringan, Rp 30 juta untuk rumah rusak sedang, dan Rp60 juta untuk rumah rusak berat dan hilang.
"Atau kalau dia mau kompleks, nanti dibangunkan oleh Menteri PKP (Perumahan dan Kawasan Permukiman), Pak. Lebih bagus," ucapmnya.
Tito menyebutkan, bantuan lain bagi warga terdampak bencana Sumatera termasuk uang lauk-pauk sebesar Rp15 ribu per orang per hari yang diberikan selama tiga bulan. Lalu, uang perabotan Rp3 juta, serta bantuan ekonomi sebesar Rp5 juta.
Relokasi Total
Sebelumnya, Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Amran optimistis, relokasi total pengungsi dari tenda pengungsian rampung sebelum hari raya Idul Fitri 2026.
"Tren ini (penurunan jumlah pengungsi) akan terus berkurang hingga Idul Fitri yang akan datang. Kami optimistis jumlah pengungsi akan terus berkurang dan menempati hunian sementara (huntara). Sehingga kita tidak melihat lagi pengungsi di tenda," kata Amran dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (10/3).
Menurutnya, strategi penurunan jumlah pengungsi ke huntara berjalan efektif, sehingga jumlah pengungsi turun cukup signifikan. Berdasarkan laporan harian Satgas PRR per 9 Maret, tercatat penurunan jumlah pengungsi jika dibandingkan dua hari lalu.
Adapun rinciannya, di Aceh dari semula 2.099 kepala keluarga (KK), saat ini terdapat 1.695 KK yang masih berada di tenda pengungsian atau berkurang 404 KK. Kemudian di Sumut dari semula 201 KK, saat ini terdapat 177 KK yang masih berada di tenda pengungsian atau berkurang 24 KK. Sementara itu, Provinsi Sumbar telah nihil pengungsi di tenda pengungsian.
Sebagai catatan, penurunan jumlah pengungsi di tenda ini juga selaras dengan percepatan pembangunan huntara di tiga provinsi terdampak. Adapun rinciannya, dari total rencana 18.697 unit huntara di tiga provinsi terdampak, hingga saat ini 13.431 unit telah selesai dibangun, atau sekitar 71% dari target keseluruhan.
Sementara Sumatera Barat, pembangunan huntara bahkan telah mencapai 100%. Tinggal melengkapi di Sumatera Utara yang sudah mencapai 92%, dan di Aceh sekitar 68%.
Tinggalkan Komentar
Komentar