periskop.id - Lonjakan mobilitas masyarakat saat mudik Lebaran 2026 diperkirakan akan membawa konsekuensi besar terhadap timbulan sampah di berbagai daerah. Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa pemerintah daerah harus bersiap menghadapi dampak tersebut.
Dalam kunjungannya ke Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Hanif menyampaikan bahwa Kementerian Perhubungan memprediksi sekitar 143,91 juta orang akan melakukan perjalanan mudik tahun ini.
“Ada sekitar 143 juta pergeseran masyarakat dari kota-kota besar ke daerah-daerah. Artinya maka sampah yang timbul dalam satu harinya bisa dikalikan 0,5 kilogram,” ujarnya dilansir dari Antara, Selasa (17/3).
Perpindahan besar-besaran ini berarti timbulan sampah yang biasanya terkonsentrasi di kota besar seperti Jakarta akan bergeser ke daerah tujuan mudik. Hanif menekankan bahwa setiap wilayah memiliki kapasitas pengelolaan sampah yang berbeda, sehingga kesiapan pemerintah daerah menjadi krusial.
“Kami sudah memerintahkan, meminta kepada wali kota dan bupati sebagai penanggung jawab utama sampah untuk segera menyikapi ini,” tambahnya.
Kementerian Lingkungan Hidup mengingatkan bahwa regulasi terkait pengelolaan sampah sudah tersedia, tinggal bagaimana pemda menegakkannya. Hal ini penting mengingat pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di mana realisasi jumlah pemudik sering kali melampaui hasil survei. Pada 2025, misalnya, survei memprediksi 146 juta orang mudik, namun realisasi mencapai 154 juta.
Kementerian Perhubungan sendiri memperkirakan puncak arus mudik akan terjadi pada Rabu, 18 Maret 2026, dengan pergerakan masyarakat mencapai 21,97 juta orang dalam satu hari. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menambahkan bahwa mobil pribadi masih menjadi moda transportasi utama, dengan estimasi 76,24 juta pemudik, disusul sepeda motor dan bus.
Data dari Badan Kebijakan Transportasi (Baketrans) menunjukkan bahwa jumlah pemudik tahun ini sedikit menurun 1,75% dibandingkan survei 2025. Namun tren mobilitas masyarakat saat Lebaran cenderung melampaui prediksi, sehingga potensi timbulan sampah bisa lebih besar dari perkiraan.
Sebagai catatan tambahan, menurut laporan Bank Dunia dan UNEP, Indonesia menghasilkan lebih dari 67 juta ton sampah per tahun, dengan sekitar 40% di antaranya berasal dari rumah tangga. Lonjakan mobilitas Lebaran berpotensi memperburuk distribusi sampah di daerah yang belum memiliki sistem pengelolaan memadai.
Dengan kondisi tersebut, kesiapan pemda dalam menyediakan fasilitas pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan sampah menjadi faktor penentu. Tanpa langkah antisipatif, lonjakan sampah saat Lebaran bisa menimbulkan masalah lingkungan baru di daerah tujuan mudik.
Tinggalkan Komentar
Komentar